Pegiat Forum Diskusi KAMMI Kultural, Aktif di KAMMI UNS
KAMMI seharusnya menjadi sebuah lembaga publik, dikelola dengan pertanggungjawaban publik. Kalau dari bahasa ‘dalam’-nya, KAMMI adalah lembaga yang diwakafkan untuk publik (wajihah ‘am)... (Catatan Sarasehan Yogyakarta)
Labelisasi KAMMI
Sejak perdebatan mengenai lahirnya sebuah
gerakan dalam tubuh KAMMI yang melabeli dirinya sebagai Gerakan
Kultural bergulir, adu argumen yang terjadi antar dua kubu menjadi bahan
kajian yang menarik untuk dibahas. Sebab, disini kedua belah pihak yang
sama-sama menolak pengkotak-kotakan gerakan, justru mengkotaki terlebih
dahulu dirinya dengan label Struktural-Kultural di ranah perdebatan
literal.
Bukannya mempertanyakan apa fungsi label struktural-kultural ini.
Ironisnya, kader KAMMI yang berada di luar arena perdebatan literal itu
malah sibuk berspekulasi dengan meng-homolog-kan label
Struktural-Kultural dengan label halal-haram. Mungkin, karena budaya verbalisme yang telah mengurat nadi, mereka yang tak tahu duduk persoalan pun turut mengamini labeling
tersebut.
Sehingga, tak pelak isu yang menyatakan bahwa gerakan kultural
adalah sebuah gerakan sempalan, gerakan manuver, yang digagas oleh
beberapa kader dalam upaya melakukan destruksi terhadap warna gerakan
Ikhwanul Muslimin dan patronasinya dengan Partai Keadilan Sejahtera
(PKS) pun menguar ke permukaan. Menjadikan gerakan Kultural yang baru
hadir tersebut menjadi musuh bersama bagi seluruh kader KAMMI, baik
yang masuk dalam struktur pengurus maupun mereka yang hanya berafiliasi.
Nah, disinilah poin pertama yang
ingin saya ungkapkan. Homogenisasi label struktural-kultural dengan
label halal-haram ini sejatinya telah merancukan kerangka berfikir kita
untuk melihat segala sesuatunya secara objektif. Padahal, inti dari
persoalan bukanlah pada pelabelan itu, akan tetapi pada argumentasi
rasional yang akan menopang dan mengarahkan pada posisi teoritik yang
diringkaskan ke arah frasa pelabelan yang dimaksud. Maka, sebelum
melangkah ke pembahasan selanjutnya, mari kita jernihkan terlebih dahulu
persepsi kita mengenai penggunaan kedua term ini.

