Tampilkan postingan dengan label Ibnu Tsani Rosyada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibnu Tsani Rosyada. Tampilkan semua postingan

21 Desember 2014

Menegaskan Eksistensi Wali dalam Pemikiran Islam Indonesia


Oleh: Ibnu Tsani Rosyada
Pegiat Forum Diskusi Kultural Surabaya | Aktivis PMII Universitas Airlangga

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah polemik yang menghangat: munculnya stigma “berhala” terhadap makam para wali yang tercetak di buku pegangan guru Sejarah Kebudayaan Islam (Kurikulum 2013) untuk kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Ironisnya, buku ituditerbitkan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Jelas hal tersebut kemudian menjadi isu hangat, terutama di kalangan pengguna media sosial.

Tentunya penulisan makam wali sebagai representasi dari bentuk “berhala”tidak bisa hanya dianggap sebagai kesalahan ringan yang dianulir begitu saja. Selain mengandung unsur SARA dan juga mengganggu keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia, sebagaimana yang dilontarkan oleh PBNU dalam situs resminya NU Online, hal ini juga bisa dilihat lebih seksama sebagai upaya untuk mendelegitimasi akan eksistensi wali. Terutama akan keberadaan Wali Songo beserta peranannya.

26 September 2014

DEMOKRASI

Ibnu Tsani Rosyada
Penstudi Ilmu Politik Airlangga 2012
Pegiat Diskusi Kultural Surabaya, Aktivis PMII Airlangga

Di negara kita demokrasi kedudukannya “lebih tinggi” dari Al Quran.
Segala sesuatu bisa dibenarkan atas nama demokrasi.
Kebohongan bisa tertutup rapat dengan kain bernama demokrasi.
Kepalsuan bisa tampak elegan dengan bingkai demokrasi.
Atas nama demokrasi, sekali jujur dua tiga kepalsuan terlampaui.

Demokrasi...
Malang benar nasibmu.
Bagai pisau yang dipegang balita.
Yang tak bisa digunakan semestinya.
Demokrasi oh Demokrasi.
Demokrasi sejati hampir tertangkap mimpi.

[ilustrasi : "demokrasi untuk rakyat? itu omong kosong!"]