Tampilkan postingan dengan label Sarasehan Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarasehan Jakarta. Tampilkan semua postingan

20 Maret 2013

Manifesto "KAMMI untuk Indonesia" Siap Dideklarasikan di Malang (Cerita dari Sarasehan Jakarta-7)

Gambar

JAKARTA (17/3)-Di sudut ruangan aula LDK As-Salam STEKPI, Jakarta, belasan aktivis,  tampak serius berdiskusi. Ada yang mendokumentasikan hasilnya di laptop. Ada yang memaparkan gagasannya, sambil kadang-kadang menuliskan di papan tulis yang tersedia. Yang lain mendengarkan seksama.

Begitulah potret salah satu forum di Sarasehan Inteligensia KAMMI II di Jakarta. Pertemuan ini ternyata tidak hanya mendengarkan paparan-paparan dari narasumber dan alumni. Peserta sarasehan juga membahas beberapa hal penting terkait rumusan tentang apa yang akan dilakukan oleh KAMMI di masa depan.

Pembahasan tersebut dimulai sejak Ahad (17/3) selepas shalat subuh. Difasilitasi oleh Arif Susanto (Pegiat Forum Kultural dari Solo), peserta membahas beberapa hal penting terkait masa depan KAMMI dan kontribusi apa yang bisa diberikan oleh Forum Kultural.

19 Maret 2013

Mu'tamar Ma'ruf: Sebaiknya Komisariat KAMMI berbasis Keilmuan (Cerita dari Sarasehan Jakarta-6)

GambarMu'tamar (kiri)

JAKARTA (16/3)-GAGASAN demi gagasan terus bermunculan di Sarasehan Inteligensia KAMMI. Jika di Yogyakarta, ada gagasan untuk menjadikan KAMMI sebagai organisasi publik (wajihah 'amal 'aam) seperti disampaikan oleh Imron Rosyadi (Ketua KAMMI DIY 2001-2002), maka kali ini ada gagasan menarik yang disampaikan kolega beliau di KAMMI DIY, Mu'tamar Ma'ruf.

Ketika diundang untuk berbicara di Sarasehan Inteligensia KAMMI Jakarta yang digagas Forum Kultural, Mu'tamar menyatakan bahwa sudah saatnya KAMMI merombak Komisariat tidak lagi berbasis kampus, melainkan kompetensi keilmuan.

"Untuk lebih menegaskan fungsinya secara nyata, KAMMI perlu mengubah basis komisariatnya yang tadi berbasis kampus menjadi berbasis keilmuan",, kata pendiri KAMMI Komisariat UNY ini.

18 Maret 2013

Haryo Setyoko: Gerakan Mahasiswa Jangan Remehkan Media Sosial (Cerita dari Sarasehan Jakarta-5)

oleh: Nur Afilin

Panitia Sarasehan Inteligensia KAMMI II, Jakarta

Gambar

Sarasehan Inteligensia KAMMI edisi Jakarta berakhir kemarin Ahad (17/3). Universitas Trilogi (dulu: STEKPI) yang berlokasi di Kalibata Jakarta Selatan menjadi tuan rumah agenda ini. Banyak ide, gagasan, kritikan, dan wacana yang terlontar dari para pembicara dan peserta yang terkuak. Salah satu yang menurut saya menarik ialah berkaitan dengan sosial media (sosmed) dan perannya dalam sebuah gerakan.

Sesi yang dimoderatori oleh Ahmad Rizky MU (Pegiat Forum Kultural Yogya) tersebut menghadirkan Haryo Setyoko, Badaruddin, dan Fikri Aziz. Ketiganya adalah mantan pengurus KAMMI dari masing-masing generasi.

Mengubur Politik Ekstra Joss (Makalah Sarasehan Jakarta-3)

disampaikan di Sarasehan Inteligensia KAMMI II di Jakarta, 16 Februari 2013.

oleh: Akbar Tri Kurniawan *)

GambarTIBA-TIBA saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar konferensi pers beberapa menit sebelum take off pesawat kepresidenan menuju Jerman dan Hungaria awal Maret lalu. Pidatonya kali ini lebih jelas ketimbang pidato-pidato sebelumnya. “Ada elit ingin menggoyang pemerintahan.” Lugas dan menohok.

Setelah kedatangan kembali ke Tanah Air, hari-hari Presiden SBY disibukkan dengan dinamika politik. Bahkan Sang Presiden sudah memasukkan kemungkinan-kemungkinan kudeta politik dalam kantung bajunya.

Keresahan presiden yang terpilih dua kali pemilu tersebut akibat goyangan elit politik yang bandulnya makin kencang mendekati pemilihan umum 2014, satu tahun mendatang. Hentakan-hentakan elit politik bersinggungan dengan kasus-kasus hukum nomor wahid. Sebut saja Hambalang, Century, atau kasus lain.

Rijalul Imam: Jangan Pernah Menutup Pintu Ijtihad (Cerita dari Sarasehan Jakarta-4)

Gambar

JAKARTA (16/3)—Pagi itu, Kampus STEKPI ramai dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang kuliah. Tetapi, di Aula Sekretariat LDK As-Salam, STEKPI, puluhan aktivis mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia berkumpul untuk mengikuti Sarasehan Inteligensia KAMMI II.

Kali ini, yang menjadi pemantik diskusi adalah Rijalul Imam, MSi, mantan Ketua Umum PP KAMMI yang telah menulis berbagai buku pergerakan. Beliau hadir untuk memberi pemaparan mengenai ‘mihwar gerakan KAMMI’, narasi yang beliau susun sebagai agenda strategis gerakan KAMMI.

Hari itu, pak Rijal datang terlambat. “Beliau ternyata menunggu di Riyadusshalihin, Tebet. HP dan BB-nya tertinggal. Untunglah, beliau mengirim email dan bisa dijemput”, kata Dian, seorang panitia kegiatan dari KAMMI Jakarta.

Badaruddin: KAMMI Harus Bergerak Beyond Politics (Cerita dari Sarasehan Jakarta-3)

IMG_3224

JAKARTA (16/3)-Sudah menjelang pukul 10 siang ketika Sarasehan Inteligensia KAMMI Jakarta mendapatkan tamu istimewa. Tiga orang senior gerakan KAMMI hadir untuk berbagi pengalaman dan memberi pemaparan di Forum Sarasehan Inteligensia KAMMI II, Stekpi (17/3).

Tiga senior yang hadir antara lain Haryo Setyoko (Deklarator dan Sekjen Pertama KAMMI), Badaruddin (Ketua KAMMI Pusat 2001-2002), dan Fikri Azis (Sekjen PP KAMMI 2008-2009). Ketiga aktivis KAMMI yang turut membidani dan membesarkan KAMMI di masing-masing masanya itu memberikan banyak pemaparan kepada aktivis-aktivis KAMMI Kultural yang sedang berkumpul dan bersarasehan.

16 Maret 2013

Menuntaskan Paradigma Intelektual Profetik KAMMI (Makalah Sarasehan Jakarta-2)

makalah diskusi di Sarasehan Inteligensia KAMMI II di Jakarta, 16 Februari 2013. 

oleh: Mu'tamar [1]

IMG_8849CopyCopy

PUJI syukur saya sampaikan kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah keimanan dan segala kenikmatan yang saya rasakan. Semoga dengan keimanan ini saya telah menjual diri kepadaNya dengan jual-beli yang menguntungkan. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad saw, perjuangan beliau dalam menegakkan tonggak sejarah baru manusia menjadi semberikan semangat bagi kita, serta kebersihan dan kesholehan pribadi beliau, menjadi contoh yang paling baik dalam mengarumi kehidupan, dan semoga kita mampu mengikuti jalannya secara istiqomah sampai pada penutup hidup kita.

Sudah lebih dari 10 tahun saya tidak lagi berkecimpung di dunia pergerakan mahasiswa. Semenjak saya meninggalkan KAMMI pada tahun 2002 dengan jabatan terakhir sebagai ketua bidang kajian stategis di KAMMI Yogyakarta. Ketika saya di-sms oleh mas wibisono untuk mengisi sarasehan KAMMI, ada dua gejolak dalam hati saya, saya terima atau tidak, karena sudah lamanya saya tdk lagi bergelut dengan dunia pergerakan mahasiswa, sehingga terasa sudah ada jarak dan terputus antara realitas yang saya hadapi (kesibukan bekerja) dengan gejolak ingin “bermimpi” di dalam KAMMI. Setelah saya timbang-timbang, gejolak untuk mentransformasikan ide-ide yang pernah saya pikirkan didalam KAMMI kepada adik-adik menggelora sehingga tawaran itu saya terima.

Mihwar Gerakan KAMMI: Sebuah Penjelasan (Makalah Sarasehan Jakarta-1)

Oleh    : Rijalul Imam, S.Hum, M.Si.

*Disarikan dari paparan yang disampaikan dalam Sarasehan Inteligensia KAMMI II di Jakarta, 16 Maret 2013. notulis: Umar

rijalul imamLATAR BELAKANG saya merumuskan konsep ‘mihwar gerakan’ adalah karena latar petualangan saya di dunia pemikiran. Semangat saya untuk masuk ke dunia pemikiran adalah karena ada ‘kekosongan’ di KAMMI –kekosongan intelektual. Arah gerakan tidak jelas ditentukan ke mana. Ini terjadi ketika saya berada di Komisariat IAIN Sunan Kalijaga. KAMMI tidak mampu berdialektika dengan pemikiran yang berkembang, seperti JIL. Saya mencoba melakukan ‘sintesis’ pemikiran. Saya harus mengetahui: apa/siapa sebenarnya KAMMI itu? Masa lalunya seperti apa? Ternyata, pada tahun 1998, saya menemukan bahwa tidak ada struktur kaderisasi di sana. Tetapi, punya ratusan ribu kader. Sehingga, menjadi sebuah fakta bahwa kader KAMMI itu mayoritas tarbiyah.

Ketika di Yogya, saya bertemu dengan pak Yusuf Maulana. Beliau salah satu pendiri KAMMI IAIN Sunan Kalijaga. Saya kebetulan salah satu ‘binaan’ beliau. Saya berinisiatif membuat Lingkar Diskusi K3BP. Karena namanya sedikit tidak asyik, namanya diganti jadi Gardan (Lembaga Rekayasa Peradaban). Saya banyak meng-construct KAMMI. pada waktu itu, struktur KAMMI melarang forum ini. Saya coba bernegosiasi: saya bersedia membubarkan kelompok diskusi ini jika KAMMI tidak ada agenda. Saya mencoba untuk membuat tiga komitmen pada waktu itu: (1) membaca; (2) hadir; (3) bicara. Di IAIN, diskusi yang dulu dibentuk sesederhana itu.

Sarasehan Inteligensia KAMMI Gagas Gerakan Keilmuan (Cerita dari Sarasehan Jakarta-2)

Siaran Pers

Subjek             : Sarasehan Inteligensia KAMMI

Kontak             : Umar (08195485931)

JAKARTA (16/3)—Sarasehan Inteligensia KAMMI di Jakarta telah menapak pada hari kedua. Pertemuan ini menggagas format Gerakan Keilmuan yang bisa diaplikasikan oleh gerakan mahasiswa, terutama KAMMI.

Pertemuan hari kedua ini menghadirkan Rijalul Imam, mantan Ketua Umum PP KAMMI, sebagai pembicara.  Menurutnya, saat ini Indonesia bergerak tanpa arah dan orientasi yang jelas. “gerakan mahasiswa harus mengisi kekosongan wacana kenegaraan saat ini”, tambah mantan Ketua Umum KAMMI DIY tersebut.

Dharma Setyawan: Mencintai KAMMI dengan 'Gila' (Cerita dari Sarasehan Jakarta-1)

GambarJAKARTA-Dharma (25) mengalami demam ketika akan berangkat ke Jakarta hari Jumat sore. Namun, ia tetap melangkahkan diri menuju stasiun guna menghadiri Sarasehan Intelegensia KAMMI II di Jakarta, 15-17 Februari 2011.

"Iya, saya agak sakit sejak tadi pagi", jawabnya ketika ditanya redaksi di kereta Progo.