Catatan Editor: Artikel ini mula-mula dimuat di facebook pribadi beliau dan dimuat kembali untuk memperkaya diskusi tentang KAMMI dan Fahri Hamzah
oleh: Tsurayya Zahra
Pengurus PP KAMMI 2011-2013
Ahmad Rizky Mardhatilah Umar, editor Jurnal KAMMI Kultural, dengan lugas dan cerdas menulis sebuah essay berjudul “Melupakan Fahri Hamzah dari Pikiran KAMMI” pada Sabtu, 18 Oktober 2014 yang dirilis oleh Jurnal KAMMI Kultural. Saya memutuskan untuk memberikan tanggapan atas tulisan tersebut.
Umar mengatakan bahwa Fahri Hamzah hanyalah mewarisi patronase KAMMI pada PKS seperti yang ditulisnya pada paragraf delapan , “Fahri Hamzah memang sudah tidak di KAMMI lagi, tapi ada satu warisan yang ia tinggalkan: patronase KAMMI terhadap PKS. Bergabungnya Fahri, dan aktivis-aktivis generasinya, dengan PKS, menandai satu episode baru terhadap KAMMI: politik patronase yang terbangun secara tidak sadar antara KAMMI dengan partai berlambang padi hitam ini. “ , Umar juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan Fahri Hamzah dan eksponen 98 merupakan suatu bentuk kegagalan tersebab setelah reformas ipun , Indonesia masih juga disetir oleh anasir–anasir orba yang menurutnya masih memiliki kekuatan untuk mengendalikan Indonesia.