30 Maret 2013

REFLEKSI MILAD KE-15: Membenahi Dwitungal KAMMI−PKS

oleh: Yusuf Maulana *)

YusufMESKIPUN secara de jure Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mengklaim bahwa mereka bukanlah bagian dari struktur-langsung PKS, secara de facto sukar dipungkiri bahwa keduanya merupakan entitas yang berkaitan erat. Maka, mendiplomasikan KAMMI bukan bagian dari PKS, atau memisahkan masa depan PKS tanpa melibatkan dinamika KAMMI, merupakan wacana yang absurd. Dengan demikian, berbicara masa depan PKS—baik untuk 2014 ataupun setelahnya—meniscayakan untuk melihat kiprah pelapisnya saat ini: KAMMI.

Sampai di sini dapat dibangun asumsi bahwa membangun KAMMI sama pentingnya membangun PKS. Asumsi ini bukan berarti menyegala-galakan keberadaan KAMMI; bahwa  KAMMI pastilah PKS, atau PKS masa depan hanya bisa direpresentasikan sebagai KAMMI hari ini. Akan tetapi, seperti yang ingin disampaikan pada refleksi sederhana ini, KAMMI sebagai anasir di tubuh PKS—entah apa pun penyebutan yang dimaui oleh aktivisnya—tidak bisa menutup mata atas kiprah PKS; hal yang sama berlaku pula kepada PKS.

MANIFESTO KAMMI UNTUK INDONESIA

Gambar

Naskah Manifesto ini dirumuskan di Jakarta, diselesaikan di Yogyakarta, dan dideklarasikan di Malang.

28 Maret 2013

[BUKU] Mencintai 'Aktivisme' dengan Sederhana

GambarJudul buku          : Aktivisme Sekejap dan Lenyap (Menakar Demoralisasi Mantan Aktivis Mahasiswa)
Penulis                : Dedy Yanwar Elfani
Tebal buku          : 125 halaman; 14,5 x 20,5 cm
Penerbit              : Diandra Pustaka Indonesia
Terbit                 : Maret 2013
Harga                 : Rp 30.000,-
Peresensi          : Ahada Ramadhana *)
"Sinisme masyarakat dengan tuduhan mereka tidak konsisten, pragmatis, syahwat kekuasaan tidaklah proporsional dan terkesan dipaksakan. Sah-sah saja para mantan aktivis mahasiswa berpolitik praktis karena tidak ada aturan moral dan hukum yang melarang. Semua warga negara berhak dan mempunyai kesempatan politik yang sama. Yang bermasalah bukan pada sisi pilihan masuk politik praktis, tapi di mana dia masuk? Bagaimana dia masuk? Dan apa yang diperbuatnya setelah masuk?"

[BUKU] Jalan yang Harus Ditempuh

GambarJudul Buku       : Ma’alim fi ath-Thariq: Petunjuk Jalan yang Menggetarkan Iman
Penulis             : Sayyid Quthb
Penerbit           : Darul Uswah (kelompok ProU Media)
TahunTerbit     : Cetakan ke-4 (Maret 2012)
Tebal                 : 354 halaman
Peresensi        : Nur Ailin
JUDULNYA "Petunjuk Jalan yang Menggetarkan Iman", Penerjemahnya mengaku, di bagian pendahuluan buku, bahwa ia merasa tidak sanggup menceritakan buku yang telah menggetarkan iman para pejuang Islam ini. Buku yang ditulis oleh seorang tokoh Ikhwanul Muslimin, Sayyid Qutb, ketika ia masih berada di penjara Nasser dan menunggu detik-detik kesyahidan di tiang gantungan.

22 Maret 2013

Dari Aksi Ke Aksi

Oleh: Arif Susanto[2]

TAK perlu memungkiri bahwa KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dilahirkan sebagai front Aksi pada 29 Maret 1998 lalu. KAMMI yang dideklarasikan di Malang menjelma menjadi armada aksi yang mampu menghadirkan gelombang massa dan gelombang opini hingga Reformasi bergulir di tahun 1998. Aksi-aksi yang digelar oleh KAMMI mampu mendorong reformasi dan memberikan warna dalam dinamika pergerakan mahasiswa Indonesia hingga 2004. Selama rentang waktu itu, KAMMI bergeliat dari satu aksi ke aksi lain.

Namun kini terjadi kegamangan ihwal aksi-aksi yang dilakukan oleh KAMMI. Perubahan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi juga mengubah pembacaan mahasiswa terhadap aksi demonstrasi. Seolah aib, Aksi jalanan dianggap kurang intelektual karena aspirasi dan suara bisa disampaikan dalam bentuk lain, semisal tulisan, diskusi, hearing, dan lain-lain. KAMMI-pun mulai merambah aktivitas keilmuan dengan membuat lokus-lokus keilmuan di kampus-kampus.

21 Maret 2013

Ya, Memang Beginilah KAMMI...

oleh: Alikta HS *)

GambarMUDA DAN ENERGIK. Begitulah saya memandang KAMMI di usianya yang tak lebih dari lima belas tahun ini. Sebagai organisasi kemahasiswaan yang lahir di masa transisi perpolitikan Indonesia tahun 1998, harus diakui KAMMI telah berhasil menorehkan identitas kesejarahannya dalam dinamika keislaman, kemahasiswaan, dan keindonesiaan.

Namun, dengan latar belakang historis tersebut, kita harus jujur mengakui bahwa ada semacam kegamangan untuk positioning dalam dinamika kekinian yang semakin turbulen. KAMMI masih terbelenggu pada otoritas masa lalu yang defensif dan determinatif, sehingga menyebabkan dominasi berlebih pada setiap wacana, pola pikir, dan langkah gerak organisasi. Padahal, tuntutan untuk melakukan pembaharuan guna menjawab tantangan zaman tentu merupakan suatu keharusan yang tak bisa ditawar.