Tampilkan postingan dengan label Yusuf Maulana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yusuf Maulana. Tampilkan semua postingan

29 Maret 2016

Mengagungkan Akal, Menuhankan Logos: Catatan untuk Penisbat Radikal pada KAMMI

Oleh: Yusuf Maulana
Penulis buku "Aktivis Bingung Eksis", "Konservatif Ilmiah", dll.

Nama Yahya ibn Ishaq al-Rawandi (827-911  M) terbilang amat asing dalam kajian filsafat Islam. Menurut Ibrahim Madkur dalam Fii al-Falsafah al-Islaamiyyah, yang dinukil oleh A. Khudori Saleh (2014), Ibnu Rawandi tergolong murid cerdas dalam majelis kaum Muktazilah. Sayang, Ibnu Rawandi di kemudian hari berbalik arah menyerang kelompok lamanya itu. Tidak hanya itu, ia pun meragukan bahkan menyerang ajaran Islam. Prinsip kenabian, baginya, bertentangan dengan akal sehat. Demikian pula syariat-syariat yang dibawa Islam, tidak masuk akal. Akal sudah memadai untuk menggapai kebenaran tanpa harus melibatkan agama, sebab toh ia anugerah dari sang Maha Pencipta.

Ibnu Rawandi begitu kesengsem pada filsafat. Filsafat, sebagaimana diyakini sebagian orang, tak lain aktivitas mencari kebenaran tertinggi. Sayang, akal kemudian mencampakkan keberadaan wahyu Ilahi. Melibatkan wahyu dianggap tidak keren. Sebaliknya, mencukupkan pada akal belaka malah dipandang keren: tengah beraktivitas bak filosof. Di kelompok inilah Ibnu Rawandi melanjutkan kesengsemnya berfilsafat dengan memfanatiki kekuatan akalnya. Ia tidak canggung untuk mencela habis keyakinan yang pernah dijalaninya.

Kisah mengagumi hingga berujung menyegalakan filsafat ternyata dialami juga oleh Ibnu Zakaria al-Razi (865-925 M). Sebagaimana dituliskan A. Khudori Saleh, al-Razi juga menolak konsep kenabian dengan tiga alasan. Pertama, akal telah memadai untuk membedakan baik dan buruk. Kedua, semua orang terlahir dengan kecerdasan yang sama, hanya pengembangan dan pendidikan yang membedakan. Maka, tidak ada alasan untuk mengistimewakan beberapa orang untuk membimbing yang lain. Ketiga, ajaran para nabi sendiri ternyata berbeda, padahal mereka berbicara atas nama Tuhan yang sama.

Akal, sekali lagi, memperlihatkan kekuatannya hingga menembus keyakinan diri yang mantap bahwa kenabian adalah sia-sia. Sungguh “luar biasa” jalan pencapaian al-Razi sampai seperti itu. Menyimpulkan bahwa tidak boleh ada yang diistimewakan sebagai pembimbing yang lain, ditambah senantiasa ada perbedaan antar-nabi. Filsafat tampaknya telanjur merasuki al-Razi tanpa memikirkan konsekuensi apabila nabi “dibunuh” dari pikiran berarti ada keterputusan dengan wahyu. Wahyu kiranya yang hendak dimatikan, alih-alih meragukan kenabian. Sebab menegasikan kenabian sama artinya merobohkan sekaligus wahyu dan tatanan yang dibangun oleh sebuah dien—Islam dalam hal ini.

Kita cukupkan uraian soal dua filosof mbalelo di atas. Keyakinan dan keteguhan pada simpulan akal diri mereka sesungguhnya sejajar sebagai—dalam bahasa para pengkaji posmo—logos. Tidak hanya nilai, tapi juga isme dan dien itu sendiri. Ya, tentang ideologi, isme, ataupun dien akal. Tuhannya adalah akal, nabinya adalah sel syaraf-syaraf yang melingkupi kerja otak manusia. Kitab sucinya berupa penalaran lewat silogisme beraturan tertentu.

Keasyikan mencicipi filsafat boleh jadi lahirkan kesilapan sebagaimana dua nama tadi. Parameternya tentu dengan worldview Islam. Cara pandang yang tidak hanya tabu mempermasalah, malahan meletakkan wahyu sebagai titik sentral menganalisis. Pelajaran berarti dari kegigihan mereka berdua adalah kepedihan bahkan kenaifan. Sayangnya, justru mereka fanatiki tanpa membuka ruang untuk melihat dengan sudut yang tidak berpaku pada akal kebanggaan masing-masing.

Saya ingin meletakkan dua filosof di atas untuk menjelaskan tentang kekaguman berlebihan pada ide baru, atau ide yang jadi tren dan pasaran. Ide yang karenanya niscaya untuk diikuti lantaran sarat gengsi. Ide yang datang belakangan sebetulnya, tapi dianggap sebagai pembaruan dan terobosan sarat kebaikan. Adanya filsafat begitu memesona Ibnu Rawandi dan al-Razi. Akal yang jadi tema sentral seolah memuaskan dahaga pencarian batin keduanya.

Tema sentral bisa juga terkait gagasan radikalisme. Radikalisme menempatkan diri sebagai logos untuk menyingkirkan ide-ide lainnya yang lebih dulu ada. Ya, ketika makna, konsep kunci, cakupan hingga dataran praktis dimonopoli tafsirannya oleh kalangan pemegang kuasa. Di sini, kekuasaan dan pengetahuan (yang melibatkan para akademisi) bekerja erat. Mendefinisikan dan mengotak-kotakkan kenyataan yang ada di tengah masyarakat. Acuan dan rujukannya pada kerja pemikir bentukan negara ini. Sekurang-kurangnya menggunakan kerangka berpikir yang dipakai para akademisi yang  bersekutu dengan kekuasaan mendefinisi radikalisme.

Untuk memuja teori dan konsep radikalisme, kepatutan adab yang dituntut agama bisa terlupakan. Karena kekaguman pada radikalisme, semua kalangan dipaksakan untuk masuk dalam kerangka berpikir yang dibanggakan. Maka, sebagaimana Ibnu Rawandi dan al-Razi yang sudah jatuh cinta pada akal, demikianlah yang terjadi pada mereka dengan kekasih bernama radikalisme. Menjadikan radikalisme sebagai narasi mendefinisikan orang lain, termasuk saudara sekeyakinan sendiri. Radikalisme sebagai ayat untuk menjelaskan yang lain (liyan) sesuai preposisi dan asumsi yang dipercayainya.

Soal benar atau tidak, sahih atau sesat, logis atau irasional, semua seperti tunduk pada kerangka bersusun yang dianggap ilmiah. Terlebih lagi ketika wacana didukung kekuatan negara sepenuhnya. Jadilah wacana semisal akal dan radikalisme kian kokoh dan menguat sebagai dogma. Meski awalnya diyakini sebagai kebaikan dan jalan menuju kebenaran sejati, dogma baru ini malah menghancurkan para pesaing yang ada. Tidak ingin ada suara berbeda selain kebenaran yang diyakini. Tidak mengherankan apabila pengerasan dan militansi pun hadir. Begitulah yang didapati pada kedua filosof tadi, berani meninggalkan komunitas lamanya dan balik menentang keras.

Radikalisme semua diyakini sebagai pemetaan untuk melihat kelompok (terutama) keagamaan yang memegang kuat doktrin. Tidak sebatas memegang doktrin yang sering dinilai tekstual (literer di mata para kritikusnya), berikutnya hadir kekerasan di ruang publik. Kekerasan lisan hingga tindakan nyata meneror. Pikiran untuk memetakan belakangan “gatal” untuk turut menstigma. Objektif dan jujur sudah berbaur dengan isi kepala dan motif bawah sadar yang senantiasa bergolak untuk direnung-pikirkan.

Sebagian peneliti dan/atau akademisi yang berbicara radikalisme pada subjek bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesa (KAMMI) tidak kurang mengidap penyakit serupa dua filosof tadi. Ada yang bertitel peneliti LIPI, lantang berteriak KAMMI sebagai kelompok radikal, tanpa menjelaskan lebih panjang detail maksud retorikanya. Publik kadung menangkap curiga terhadap statemennya. Tudingan berbalik penelitian mengabaikan kemungkinan premis yang disusun berganti peran sebagai bahan propaganda. Sebab, isi pikiran dan prasangka sudah tebal berkerak, tidak ingin disingkirkan oleh kenyataan sebenarnya. Logos untuk mengharuskan ciri-ciri yang diketahui secara dangkal sebagai ciri kelompok radikal, melupakan tanggung jawab sang peneliti untuk bertindak dingin ketika memverifikasi setiap informasi.

Namun yang terjadi, justru kenyataan di lapangan (yang tidak bersesuaian dengan premis untuk publik) malah gagal ditarik dalam kesimpulan tanpa dengki. Hanya dengan ciri-ciri mengajarkan ini dan itu, entitas yang dituju seperti KAMMI langsung dikotakkan sebagai ciri gerakan radikal. Signifikansi dan alat ukurnya tidak lagi penting karena sejak semula memang sudah meyakini keabsolutan pikirannya. Ya, bahwa KAMMI mencirikan kekuatan anak muda radikal.

Celakanya, lapisan konseptual sang peneliti ditelan mentah-mentah oleh seorang guru besar kampus negeri keislaman. Sang guru besar kembali mengulang wacana yang diyakininya absah bahwa mahasiswa kampus negeri umum mudah dicekoki doktrin dan radikalisme. Sang guru besar malah membanggakan anak didiknya yang kritis terhadap setiap pemikiran. Logos sang guru besar adalah mengunggulkan kekuatan mahasiswa kampus Islam, dan sebaliknya meremehkan kalangan mahasiswa kampus umum—utamanya dari fakultas sains.

Sang guru besar diam-diam dan tanpa disadari sudah melakukan kepongahan dengan meletakkan mahasiswanya superior di atas mahasiswa fakultas sains. Seolah kekuatan nalar mahasiswa sains hanya kuat secara instrumentalis belaka; hanya cocok jadi pesuruh dari para penalar. Menyia-nyiakan kepintaran untuk kemudian menerima setiap bujukan ajaran baru kendati itu sesat. Tidak jelas bagaimana mengukur hikmah dan kebijakan dari fakta yang ditemui sang guru besar.

Begitulah, ketika nilai dan prasangka sudah menguat lebih dulu—lebih-lebih dari sebuah pencarian panjang—maka akan mudah dipegang erat-erat. Diyakini sepenuh hati seolah kebenaran itu sendiri otomatis ada padanya. Yang dianutinya niscaya absolut, sementara di luarnya masih perlu koreksi hingga penganuliran. Bila untuk menghapuskan kecintaan pada ajaran Islam dan kenabian saja bisa diperbuat para pengagum akal, akan lebih mudah lagi melupakan peran sejarah kelompok perubahan semisal KAMMI oleh para pengkaji tema radikalisme. Radikalisme dengan sekian ciri dan indikatornya sudah jadi ayat mutlak untuk dipegang dan enggan diperdebatkan. Melampaui semua kemungkinan berbeda, termasuk pendapat dan gagasan milik dirinya dari kesilapan.

Akhirnya, penisbatan kalangan peneliti ataupun akademisi senior terhadap KAMMI tidak perlu direspons dengan panik. Kedewasaan aktivis KAMMI dalam umur 18 tahun perlu ditempa dengan penilaian, anggapan, hingga stereotip ala orang lain. Bisa jadi ngawur dan kacau logika sertai argumentasinya, tapi bagaimanapun juga itu pengaya khazanah. Dalam keterbatasan mereka ada ruang untuk mengoreksi dan menempatkan KAMMI sesuai lajur semestinya. []

9 November 2014

Patron, Mentor, Idola

Kontribusi untuk Diskusi tentang KAMMI dan Fahri Hamzah

oleh: Yusuf Maulana
Alumni KAMMI


Dalam pematangan gerakan, aktivis tetap butuh patron dan mentor. Jauh sebelum Republik ini berdiri, pengaderan para pejuang bangsa senantiasa diselubungi dengan peneladanan dan pengidolaan. Logis saja manakala anak didik mengikuti-habis setiap yang dikatakan patron maupun mentor. Bukan semata karena ada keyakinan barakahnya ridha sang patron ataupun mentor, melainkan juga karena ada ikatan kuat untuk selalu berbuat lebih baik.


Bagi saya, hal itulah yang muncul ketika membaca tulisan adinda Umar, "Melupakan Fahri Hamzah dari Pikiran KAMMI" dan tulisan-tulisan tanggapannya dari Zahra, Dharma, Faqih, dan Alikta. Saya ingin mengarifi tulisan tersebut sebagai sebuah auto-kritik terhadap KAMMI, sekaligus juga ingin memberikan catatan bahwa dalam setiap pergerakan, tak terkecuali gerakan mahasiswa, ada semacam kegalauan ketka harus berinteraksi dengan senior. Ia bisa menjadi patron, mentor, atau dalam kasus yang lebih khusus: idola. 

15 Mei 2013

Banjir dan Suara Diam Gerakan Mahasiswa

Oleh : Yusuf Maulana*   
*Pendamping Ideologis Pegiat KAMMI Kultural 

Banjir yang terjadi di Jakarta dan daerah di sekitarnya tidak hanya menyita perhatian aparat pemerintah, namun juga gerakan mahasiswa (GM). Jika warga biasa mengkritik penanganan bencana pemerintah, aktivis GM punya cara sendiri untuk melakukannya: berdemonstrasi. Jika warga, perusahaan hingga partai politik berjibaku menyalurkan bantuan kepada para korban, aktivis GM tidak mau tertinggal: menjadi relawan kemanusiaan. Pendek kata, apa yang dilakukan warga atau aparat, GM telah melakukan pula; tidak relevan lagi, mana yang mengawali, mana yang meniru.


Keterlibatan GM dalam bencana alam seperti banjir Jakarta beberapa waktu lalu memang suatu tindakan terpuji. Masih ada harapan untuk memercayai mereka dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah krisis kepercayaan terhadap mereka. Apatisme terhadap kiprah mahasiswa atau GM, seperti yang dilontarkan banyak pihak belakangan ini, setidaknya bisa dikurangi dengan adanya kegiatan seperti menjadi relawan. 

KAMMI, dan Elaborasi Masyarakat Sipil (Prawacana untuk Muktamar KAMMI)

Oleh : Yusuf Maulana

Bagi publik yang pernah terlibat dalam dunia pergerakan, bukan hal sulit untuk merasakan adanya perubahan karakter mahasiswa sekarang. Perubahan itu sayangnya bukan menuju kepada kemajuan. Mahasiswa kini tidak lagi tertarik untuk aktif di gerakan mahasiswa (GM). Tak heran jika banyak GM yang kekurangan anggota; pengaderan berjalan di tempat, atau bahkan separuh mati. Jika pada masa kejayaannya antar-GM berkompetisi merekrut anggota, kompetisi yang sama sekarang ini nyaris tidak ada.

Keadaan di atas tidak terkecuali ikut dialami KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Dalam usianya yang masih remaja (lima belas tahun), sebuah kerugian jika KAMMI ikut layu sebelum berkembang menjadi GM yang berpengaruh dalam mengawal demokratisasi di negeri ini. Apalagi, saat yang sama, masih terbuka tantangan untuk berdialektika dengan saluran politik formal (parlemen).

Senayan, dan Asa Sederhana pada Kawan Lama

Oleh : Yusuf Maulana

Kawan, namamu tertera di antara ribuan politisi yang bakal bertarung di Senayan tahun depan. Aku yakin itu namamu karena kiprahmu memang selama ini di sana. Kau bahkan mencari sesuap nasi juga di antaranya dari sana. Kalau kemudian engkau diamanahi menjadi ‘pendakwah’ di parlemen bila kelak terpilih, logis saja. Terlebih lagi kau sudah kenyang asam garam mendampingi para senior di panggung nasional.

Kawan, hadirnya namamu di selebaran KPU bedalah ketika engkau ada di papan nama DPM di kampus kita dulu. Dulu kau musti masuk karena tiada pesaing untuk menghadang.  Tapi kini, kau harus berjuang ekstrakeras hingga peluang terakhir. Boleh jadi kau menang; boleh pula kau terbuang. Bukan saja terhempas oleh kawan di luar partai, namun juga teman seiring separtai. Kau tentu ingat, kawan, tiada kawan abadi, yang ada kepentingan abadi!

Kau bukan pertama kali seorang kawan lama di organisasi anak-anak muda di jalanan yang kemudian tercebur di pusara para sesepuh. Kau pasti paham apa itu ketaatan, dan kau pun memilih ke sana. Ketaatanmulah yang kemudian melempangkanmu menemukan jalan kini yang kadang berbeda denan sebagian kawan lama kita. Apa boleh buat, selagi muda kita memang bisa bersatu, saat periuk beterbaran masanya kita berhamburan. Di sinilah akhirnya kadang meradang untuk saling serang. Bukan saja antara kau dengan kawan kita yang ada di seberang kubu, tapi juga kau dengan kawan yang sekadar ada di luar kandang.

Ada atau tidak adanya kau di daftar, bagiku, setabal pengisi rutinitas pesta lima tahunan. Memang penting bagi kawan-kawanmu yang masih percaya kehadiran politisi muda bisa berikan asa baru dalam mengubah tatanan. Bagiku, semua itu omong kosong. Kalau tidak terseret, syukur tidak tenggelam. Sukar untuk menyeret orang agar ikut jalur idealisme kita selagi masih di jalanan. Mungkin, katamu, dunia kini berbeda; dunia jalanan itu absurd dan penuh omong kosong. Adapun kini, dunia dengan kursi sebagai simbol, idealisme itu dipertaruhkan dengan kenyataan.

Justru karena aku takut kau akan mengulang lagu lama kawan-kawan kita yang pupus sebelum kepalan tangan teracung, maka aku mawas. Mawas agar aku yang mengenalmu secara bersahaja juga ingin menempatkanmu dengan apa adanya.  Perubahan memang tidak mustahil kaulakukan. Seorang diri tanpa atau dengan cinta, kerja, dan harmoni, dengungan guru utamamu. Perubahan itu bahkan mungkin hadir dengan kau seorang bertandang di kandang lawan.

Tapi kawan, untuk itu apakah kau bersiap? Bersedia untuk mengikuti prasyarat yang ada agar engkau menjadi petarung yang siap memengaruhi orang ketimbang kau dipengaruhi?

Maka, aku tak muluk memintamu mengingat apa itu jati diri organisasi kita. Takperlu mencapmu dengan ini dan itu lewat uji tes apakah engkau masih ingat tafsir gerakan kita. Juga tidak memadai bila kau kami ukur dengan kefasihanmu dalam bicara kredo gerakan. Semua omong kosong itu biarlah kauletakkan di sakumu. Kau cukup hafalkan saja apa yang diamanahi partaimu. Cukup itu saja. Selagi itu bersesuaian dengan nuranimu, jalankan! Bila tidak, katakan tidak!

Karena kita anak-anak yang pernah dibesarkan di jalanan; karena kita pernah menghirup liarnya udara pantai, jangan pernah ragu untuk menjadi pelafal amin pada satu kata: kebenaran. Dan katakan tidak untuk pelafal amin pada membeo dan taklid kekuasaan. []

30 Maret 2013

REFLEKSI MILAD KE-15: Membenahi Dwitungal KAMMI−PKS

oleh: Yusuf Maulana *)

YusufMESKIPUN secara de jure Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mengklaim bahwa mereka bukanlah bagian dari struktur-langsung PKS, secara de facto sukar dipungkiri bahwa keduanya merupakan entitas yang berkaitan erat. Maka, mendiplomasikan KAMMI bukan bagian dari PKS, atau memisahkan masa depan PKS tanpa melibatkan dinamika KAMMI, merupakan wacana yang absurd. Dengan demikian, berbicara masa depan PKS—baik untuk 2014 ataupun setelahnya—meniscayakan untuk melihat kiprah pelapisnya saat ini: KAMMI.

Sampai di sini dapat dibangun asumsi bahwa membangun KAMMI sama pentingnya membangun PKS. Asumsi ini bukan berarti menyegala-galakan keberadaan KAMMI; bahwa  KAMMI pastilah PKS, atau PKS masa depan hanya bisa direpresentasikan sebagai KAMMI hari ini. Akan tetapi, seperti yang ingin disampaikan pada refleksi sederhana ini, KAMMI sebagai anasir di tubuh PKS—entah apa pun penyebutan yang dimaui oleh aktivisnya—tidak bisa menutup mata atas kiprah PKS; hal yang sama berlaku pula kepada PKS.

2 Maret 2013

Imajinasi Kejayaan Gerakan Mahasiswa

oleh: Yusuf Maulana *)

YusufASPIRASI untuk menurunkan Susilo Bambang Yudhoyono dari kursi presiden bukan hanya lantang disuarakan para politisi, namun juga gerakan mahasiswa (GM). Memang masih dini untuk menyimpulkan bahwa aspirasi GM murni berasal dari keprihatinan mereka atau berasal dari titipan para politisi. Meski demikian, ada yang lebih penting ketimbang merunut apakah aspirasi GM murni atau tidak, yakni mengukur kekonsistenan GM dalam memperjuangkan aspirasinya itu.

Kumulasi berbagai persoalan—terutama kinerja pemerintah dalam mengantisipasi dan menangani bencana alam akhir-akhir ini—mengakibatkan mudahnya masyarakat secara luas kecewa. Jadi, kekecewaan terhadap pemerintahan SBY selama dua periode bukan hanya monopoli politisi atau aktivis GM. Belum lagi sebagian masyarakat sering menolak ekspresi beroposisi terhadap pemerintah apabila hanya diwujudkan dalam gerakan-gerakan politik praktis, padahal saat yang sama jaminan perbaikan yang ditawarkan justru terlewatkan. Akibatnya, baik pemerintah ataupun pengkritiknya dipandang sebagai pihak-pihak yang lebih mementingkan dirinya dibandingkan mementingkan masyarakat.

17 Februari 2013

Ketika Gerakan Mahasiswa Tak Lagi Utama



**Tulisan ini adalah paparan materi yang disampaikan dalam Forum Diskusi KAMMI Kultural #2 di Komplek Perumahan Polri Blok C-4, Gowok, Sleman. Dicatat oleh Ahmad Rizky M. Umar

 Oleh   : Yusuf Maulana *)

 Entah sebuah siklus menjelang Pemilu, seperti beberapa tahun lalu, banyak aktivis yang ‘pindah haluan’, baik dari sisi passion politik maupun juga ubversi politik. Dulu, tahun 2003/2004 Golkar menjadi ‘tujuan  akhir’ atau tempat beraktualisasi, sekarang partai-partai baru yang menjadi ‘tujuan’. Dan partai ini menjadi semacam tempat bersinggah bagi partai politik.

Pusaran Pragmatisme

Yang menarik, orientasi berpolitik sekarang sangat kental dengan orientasi materi. Ini kental sekali, seperti di Nasdem. Wacana ‘restorasi’ yang mereka gaungkan nyatanya tidak sepenuhnya dilakukan oleh partai-partai tersebut. Rasa-rasanya, mereka masih ingat siapa Surya Paloh, ketika mereka masih aktif bergiat sebagai aktivis tahun 2000an. Banyak alasan yang diutarakan, menjadi ‘mitos’; untuk menutupi kecenderungan mereka untuk pragmatis ketika berada di partai politik.

15 Februari 2013

KAMMI dan Gerakan Profetik*




Catatan Penyunting: *makalah ini saya temukan di tumpukan file Kamda Yogya edisi lama. Dokumen ini awalnya dibuat untuk diskusi dengan aktivis HMI MPO (Muhiddin M. Dahlan dkk.) dan diterbitkan ulang di Majalah Alaf terbitan KAMMI IAIN Sunan Kalijaga. Melihat dokumen ini, sepertinya ditulis pada awal tahun 2000 oleh penulisnya, ketika KAMMI IAIN Sunan Kalijaga baru saja diterbitkan. 

Oleh : Yusuf Maulana*)

Menempatakan tipologi gerakan massa ( baca: mahasiswa ) tidak terlepas dari ontologi, epistemologi dan aksiologi gerakan tersebut. Artinya, paradigma tentang  hakikat ada / realita, kebenaran dan sistem nilai, bersumber pada sebuah refleksi-bahkan interpretasi-doktrin. Ideologi, doktrin atau dogma menjadi pegangan dalam menyusun visi dan miisi gerakan. Puncak “keemasan” dari sebuah gerakan adalah tahapan menuju praksis-sebuah revolusi nilai.

Falsafah Nilai

Seperti halnya polemik pemasupan nilai sebagai peripta dari ilmu, begitu pula “pencairan” agama ke praksis dalam wujud ide, masih disangsikan prospek “keabsahannya.” Adanya “penyekatan” dalam ruang agama, membuat para ideolog (cendekiawan ) tidak puas melihat posisi agama dalam ruang sel, yang-bahkan-sebuah labirin! Hegemoni, sebagai variabel yang menempatkan agama hanya sebagai komplemen.

Dominasi negara atas masyarakat dan masyarakat atas masyarakat, membuka jalan atas tafsir monolitik  kebenaranm. Proyek membuka sumbatan limbo sejarah, oleh gerakan massa akan sulit apabila tidak diilhami sebuah “nilai.”