Tampilkan postingan dengan label Ahmad Rizky M. Umar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Rizky M. Umar. Tampilkan semua postingan

29 Agustus 2015

Bergerak tanpa Kasta, Berjuang tanpa Nama

Ahmad Rizky M. Umar

Pada tahun 2013, Forum Diskusi KAMMI Kultural merilis jargonnya di Web: "Bergerak tanpa Kasta, Berjuang tanpa Nama". Sejarah jargon ini sederhana: waktu itu, Dharma Setyawan sedang menulis sebuah naskah lagu berjudul "KAMMI untuk Indonesia" yang direkam secara sederhana. Di dalam naskah lagu tersebut, terselip lirik "Bergerak tanpa Kasta, Berjuang tanpa Nama". Istilah ini kemudian dipopulerkan dalam tulisan-tulisan di Website. 

Sebetulnya jargon ini biasa saja. Mengingat, Forum Diskusi Kultural hanyalah komunitas yang diinisiasi oleh anggota-anggota KAMMI. Jadi, kami menganggap jargon ini semata ekspresi 'jiwa muda' plus sedikit keisengan. 

Belakangan, dari beberapa komentar di web, saya menangkap ada semacam 'keberatan'. Ada yang menuding jargon ini melukai hati beberapa kawan yang selama ini sudah bergerak di KAMMI. Atau ada yang menuding jargon ini terkesan kekiri-kirian (mungkin karena persis bersanding dengan Bintang Merah di Website). Beberapa, mungkin karena membaca tulisan-tulisan polemik di web atau wawancara di media, beranggapan bahwa KAMMI Kultural adalah 'antitesis' dari 'struktur' atau semacamnya. 

Apapun tanggapannya, saya merasa perlu untuk memberikan sebuah 'penafsiran' dan sedikit penjelasan mengenai apa makna dari jargon tersebut dan sejauh mana kita mengaktualisasikannya, baik sebagai anggota biasa maupun alumnus KAMMI. Tentu saja, ini adalah penafsiran: karena sebetulnya akan lebih baik jika makna jargon apapun dibiarkan terbuka oleh berbagai macam interpretasi, dan menjadikan KAMMI (Kultural) menjadi dinamis oleh karenanya.

3 Juli 2015

Setiap Hari adalah Ramadan, Setiap Malam adalah Lailatul Qadar

Ahmad Rizky M. Umar

Ramadhan adalah bulan pelatihan. Setidaknya, itulah yang sering dicerasa-dmahkan oleh para Khatib dan penceramah di berbagai Mesjid di Bulan Ramadhan ini. Rasulullah bersabda, man shaama Ramadhaana imaanan wahtisaban ghufiralahu maa taqaddama min dzanbihi. Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan penuh perhitungan, diampuni oleh Allah dosa-dosa sebelumnya.

Maka, berlomba-lombalah kita untuk berpuasa di bulan Ramadhan, disertai dengan ibadah-ibadah yang menjadi ‘tradisi’ di bulan ini: tadarrus, i’tikaf, dan berbagai amal ibadah lain.

Tetapi bayangkanlah jika semua bulan adalah Ramadhan. Dan setiap malam adalah Lailatul Qadar. Mungkinkah kita beribadah?

Pertanyaan saya mungkin sedikit sufistik, tetapi memberikan sebuah refleksi: jika kita jadikan Ramadhan sebagai bulan untuk melatih diri, menahan diri dari segala macam hawa nafsu,mungkin ibadah kita tidak lagi dimaknai sebatas ritus. Karena setiap harinya adalah Ramadhan, dan setiap malamnya adalah Lailatul Qadar.

22 Mei 2015

Rohingya dan Kekeliruan Cara Pandang Kita Soal Identitas

oleh: Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal Kultural

Pada tanggal 21 Mei 2015, laman Selasar.com dan Mata Garuda menerbitkan satu infografis menarik: "Kontribusi Sang Naga bagi Indonesia". Infografis sederhana tersebut memetakan kontribusi-kontribusi positif warga keturunan Tionghoa bagi kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia, sekaligus membantah sebuah stigma, bahwa mereka adalah Liyan bagi kemerdekaan Indonesia.

courtesy of selasar.com
Saya ingin merefleksikan infografis tersebut dengan cara pandang yang sedikit berbeda. Selama ini, cara kita memandang orang-orang keturunan lebih banyak dipenuhi stigma --memandang apa yang nampak sebagai kebenaran yang menyeluruh. Sesuatu yang kemudian, dalam kasus lain, terbukti bisa sangat berbahaya.

Setidaknya cerita yang saat ini hangat di pesisir Sumatera dan beberapa negara lain di Asia Tenggara mencerminkan hal tersebut. Sejak pekan lalu, dunia tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya gelombang pengungsi Rohingya di beberapa negara Asia Tenggara. Mereka sejak bertahun-tahun silam sudah mencari perlindungan ke beberapa negara dan dikabarkan ingin kembali. 

25 April 2015

Menjadi Tjokro, Menjadi Guru untuk Semua

oleh: Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal KAMMI Kultural 

Apa artinya menonton film Tjokroaminoto, di masa ketika semua orang menjadi sensitif  dengan harakah atau perkumpulan lain?

Banyak catatan tentang film Tjokroaminoto yang baru-baru ini diangkat oleh sineas Garin Nugroho.Saya tidak ingin menggarami air laut dengan menambahkan catatan atas film ini. Tapi, ada sedikit hal yang mengusik saya tentang Tjokro, sisi yang sering terlupakan: sisi Tjokro sebagai seorang 'murabbi'.
courtesy of citraindonesia.com

Bagi saya, pesan yang ditampilkan Tjokroaminoto sebetulnya sederhana: semua orang adalah murid, dan semua tempat adalah pembelajaran. Mungkin hal ini sudah sering disebut-sebut, tapi menarik untuk diulang kembali: ada tiga orang murid Tjokro yang di kemudian hari berselisih jalan. Namanya Soekarno, Semaun, dan Kartosoewirjo.

Ini menarik. Ketiganya berjalan di atas garis ideologi yang kemudian saling berhadapan setelah kemerdekaan: nasionalis, komunis, dan Islamis. Tjokro-lah yang memberikan dasar bagi mereka dalam membangun dan mengembangkan garis ideologinya.

9 Februari 2015

Jalan yang Bersimpang: Dua Kutub dari Rahim Ikhwan

Artikel ini ditulis pertama kali pada bulan September 2012. 

oleh: Ahmad Rizky M. Umar

Di tahun 1960an, ketika masa-masa petinggi Ikhwanul Muslimin dipenjara, terbit dua buku penting: "Du'at Laa Qudhat" dari Hassan Hudaiby dan "Ma'alim fith Thariq" dari Sayyid Qutb. Yang disebut kedua terbit lebih dulu.

Masa-masa itu adalah masa yang berat bagi Ikhwan. Mereka dikhianati oleh orang yang justru mereka dorong untuk tampil sebagai pemimpin Mesir waktu itu, Gamal Abdel Nasser. Nasser adalah mantan anggota Nizham Khas, satuan paramiliter Ikhwan. Bersama Sadat dan beberapa perwira lain waktu itu, dan dengan dukungan penuh dari Ikhwan (yang baru saja kehilangan pemimpin besarnya Hassan Al-Banna), ia menggulingkan Raja Farouk dan mendeklarasikan pemerintahan baru. Setelah krisis politik era Naguib, Nasser tampil sebagai pemimpin baru. Ia mulai membangun front baru, mengeksklusi Ikhwan secara politik, dan akhirnya, setelah insiden percobaan pembunuhan oleh delapan aktivis Ikhwan di Al-Manshiya tahun 1954, Nasser memerintahkan penangkapan besar-besaran terhadap tokoh-tokoh Ikhwan.

18 Januari 2015

Mengapa KAMMI Tidak Punya Sastrawan?

oleh: Ahmad Rizky MU.
Peneliti, dan Penikmat Cerpen-Cerpen Kuntowijoyo

Kresna Duta
Dalam sebuah perbincangan di sela-sela Sarasehan KAMMI di Jakarta, 2 tahun silam, ada satu tema yang sempat saya dan beberapa orang perbincangkan: soal budaya. Obrolan sederhana saja: bagaimana kalau KAMMI menggagas semacam wadah kebudayaan, yang bisa menjadi wadah berkarya bagi kader-kadernya yang punya minat di bidang sastra, seni, dan kebudayaan kontemporer. Iseng-iseng digagaslah satu nama: LEKMI, Lembaga Kebudayaan KAMMI. Walaupun selama ini aktivitasnya baru sebatas bergerak menerbitkan hasil-hasil karya di Jurnal Kultural.

Harus diakui, selama belasan tahun hidup di Indonesia, tema-tema soal sastra, kesenian, dan secara lebih luas kebudayaan absen dalam ruang-gerak KAMMI. Hal ini tidak mengherankan. Di dalam Filosofi Gerakan, wa bil khusus Filosofi Gerakan KAMMI yang tercantum di GBHO, tak sekalipun tema kebudayaan disinggung. Yang dominan adalah KAMMI sebagai Gerakan Politik. Isinya adalah hubungan KAMMI dengan partai politik, LSM, negara, dan elemen politik lain. Tak ada disinggung hubungan KAMMI dengan Dewan Kesenian Daerah, para Sastrawan, atau komunitas penyanyi dangdut di masing-masing kampung.

Saya bisa memahami kalau elemen-elemen yang saya sebut di atas absen dalam jati diri KAMMI. Dalam proses kesejarahan organisasi ini, KAMMI memang men-tanfidz-kan diri sebagai gerakan mahasiswa yang bergerak secara politis. Hal ini tercermin dari jargon "Muslim Negarawan" yang jadi orientasi perkaderan KAMMI. Mungkin (sekali lagi mungkin) karena orientasi ini, kader-kader KAMMI dilatih untuk menjadi kader-kader pemimpin yang siap mengakses negara ketika mereka siap. Mungkin, menjadi sastrawan tidak cukup bonafid untuk disebut sebagai "negarawan" (lihat artikel menarik dari Gading EA soal Muslim Negarawan ini).

10 Januari 2015

Apa Artinya Insiden Charlie Hebdo bagi Islam dan Politik Global?

Ahmad Rizky M. Umar
Peneliti dan Aktivis

Tragedi Charlie Hebdo segera menjadi perdebatan publik. Beberapa cendekiawan muslim seperti Tariq Ramadan, Farish Noor, atau Yasir Qady segera mengecam penembakan, namun ada satu hal yang perlu dicermati: apa yang dilakukan oleh Charlie Hebdo dalam beberapa satirnya juga tak bisa diterima. Keduanya, baik penembakan atau kartun satir yang jelas-jelas menghina simbol-simbol identitas Islam, sama-sama keliru dan fatal. 

Tapi mari kita berpikir lebih ke depan. Apa dampak insiden ini bagi tatanan politik global ke depan? Apakah penembakan ini sebentuk 'sinyalemen' pertentangan yang lebih keras antara 'Islam' dan 'Barat'? Apakah bakal ada gelombang baru 'Islamofobia' terutama di negara-negara Eropa? Ataukah  ini sebetulnya sinyal pengaturan keimigrasian yang lebih ketat di negara Barat?

28 Desember 2014

Rachid Ghannouchi: Tidak ada Kontradiksi antara Islam dan Demokrasi!

Tulisan ini diterjemahkan oleh Ahmad Rizky M. Umar, Editor Jurnal KAMMI Kultural, dari sebuah op-ed yang ditulis oleh Rachid Ghannouchi di The Washington Post. Judul Aslinya adalah "Tunisia Shows There Is No Contradiction between Democracy and Islam".
 
oleh: Rachid Ghannouchi
Pendiri dan Ketua Umum Partai An-Nahdha, Tunisia

Sejak Tunisia bersiap untuk menggelar Pemilu kedua yang bebas dan adil bulan Oktober silam, yang menandai sebuah transisi dari despotisme ke demokrasi, ada semacam tawaran baru yang berbeda dari sikap ekstrem para teroris dan intervensi militer yang terlihat di kawasan Tiomur Tengah. Tunisia saat ini tengah menjadi sebuah "bukti" bahwa mimpi demokrasi kini sedang dituai setelah menghadapi Arab Spring empat tahun silam. 

Kendati ada yang percaya sebaliknya, tidak ada sama sekali "pengecualian" dalam proses demokrasi di Timur Tengah atau kontradiksi yang inheren antara Islam dan Demokrasi. Sebaliknya, Timur Tengah bisa mendapatkan stabilitas dan perdamaian melalui proses rekonsiliasi dan konsensus. Akan tetapi, jalannya tentu masih panjang dan memerlukan kerja-kerja menantang. Masih ada proses pembangunan institusi, mengobati "luka lama" dan memperoleh kompromi dari nilai-nilai yang selama ini disepakati. Jalan yang sedang ditempuh oleh Tunisia bisa memandu negara-negara lain di kawasan.

28 November 2014

Pelajaran Morsy untuk Jokowi dan Andriyana

oleh: Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal KAMMI Kultural

Pada bulan Maret 2013, beberapa bulan sebelum Kudeta di Mesir,  seorang kolumnis di Harian  Ahram menulis sebuah artikel berjudul "Apa yang tidak dipahami Morsi tentang Reformasi Kepolisian?" Di masa itu, Mesir sedang dilanda gelombang demonstrasi yang menuntut Presiden Morsi untuk mundur. Ia menulis kira-kira seperti ini: 

"Saya tidak akan menyebut-nyebut sikap yang diberikan oleh orang-orang presiden di luar istana. Saya hanya ingin mengingatkan Presiden bahwa mereformasi kepolisian bukan permintaan kecil yang bisa sewaktu-waktu diabaikan. Dan sikap Presiden yang mencoba untuk tidak meng-address masalah ini akan membuat "Pemilu" kehilangan maknanya"

19 Oktober 2014

Melupakan Fahri Hamzah dari Pikiran KAMMI


Oleh: Ahmad Rizky MU
Peneliti dan Aktivis

Ketika pimpinan Ketua DPR baru saja terpilih beberapa pekan lalu, banyak kader-kader KAMMI yang tersenyum sumringah. Rupanya, ada semacam perasaan bangga di dada mereka setelah mengetahui kalau Fahri Hamzah, sang mantan Ketua Umum yang dulu disebut-sebut "pendiri" KAMMI, menjadi Wakil Ketua DPR. 

Ya, akhirnya setelah sekian lama, ada juga alumni KAMMI yang tampil di pentas senayan. Jadi Wakil Ketua DPR, lagi. Namanya: Fahri Hamzah. 

Mungkin wajar saja jika banyak kader yang bangga. Baik kader-kader di Pengurus Pusat ataupun di KAMMI Nasional. Maklum, bagi organisasi yang masih muda seperti KAMMI, mendudukkan alumninya sebagai anggota parlemen itu seperti bunga bangsa yang baru saja pulang dari medan perang; seperti pahlawan. 

Hal itu sah-sah saja. Tapi mohon maaf kalau saya punya pikiran yang agak sedikit berbeda: tidak ada yang perlu dibanggakan dari seorang Fahri Hamzah dalam pencapaiannya itu. Fahri Hamzah memang, harus kita akui bersama-sama, punya nama besar sebagai pendiri. Namun, mohon maaf, tanpa sedikit pun mengurangi rasa hormat saya pada bung Fahri, saat ini KAMMI harus meninggalkan pakem politik KAMMI; jangan jadikan Fahri seperti "Megawati" di PDI-Perjuangan: membuat KAMMI gagal move on dari pakem politik yang sudah seharusnya di-upgrade. 

12 Oktober 2014

"Kultural" setelah Kultural: Catatan Jelang 2 Tahun Forum Diskusi KAMMI Kultural

Peringatan 15 Tahun Gerakan KAMMI di Malang, oleh akitivis Forum Diskusi Kultural Malang.
Courtesy of Azami

PADA tanggal 12 September 2013, Dharma Setyawan menulis sebuah artikel di Jurnal KAMMI Kultural: "Kultural" Pasti Berlalu? Dharma mencoba untuk merefleksikan kembali, bagaimana nasib Forum Diskusi KAMMI Kultural setelah beberapa fungsionarisnya "dipanggil" untuk memperkuat PP KAMMI. Ya, nama-nama seperti Robert Edy Sudarwan, Adhe Nuansa Wibisono, Mas Arif Susanto, Dharma, dan saya sendiri memang diminta untuk memperkuat PP KAMMI hingga sekarang (kecuali saya yang mengundurkan diri pada bulan Mei lalu). Ia melihat bahwa ada semacam anggapan KAMMI Kulturak akan hilang seiring waktunya dan hanya menjadi gerakan pragmatisme, karena dianggap sebagai alat untuk menuju posisi-posisi kekuasaan pimpinan pusat.

Cemoohan ini tidak satu-dua kali datang. Ketika Forum Diskusi KAMMI Kultural baru saja dideklarasikan pada tahun 2012, muncul orang yang nyinyir: KAMMI Kultural paling cuma "barisan sakit hati", atau semacamnya. Sungguh elok bukan, ungkapannya?

Keresahan Bung Dharma memang beralasan. Beberapa teman di PP KAMMI memang larut dengan hingar-bingar dan ketidakjelasan aktivitas di PP. Akibatnya, banyak teman yang berubah: tidak lagi menulis, tidak lagi membaca, sibuk dengan aktivitas dan agenda masing-masing. Yang dikhawatirkan Dharma, hal-hal semacam ini membuat KAMMI Kultural mati.

Namun, sebagaimana kemudian dibuktikan oleh para pegiat Forum, kekhawatiran ini tidak terbukti. Dua tahun usia KAMMI Kultural (sejak ia ditubuhkan melalui Sarasehan KAMMI di Yogyakarta, Desember 2012), Forum Diskusi Kultural terus rutin. Web masih berjalan kendati sempat mati beberapa bukan. Diskusi masih giat di Malang, Surabaya, dan Lampung.

30 September 2014

Tentang “Rekonsiliasi”: Sebuah Catatan untuk KAMMI

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar
Peneliti dan Aktivis.

SETIAP tahun, kita bertemu dengan satu tanggal kelam: 30 September. Kelam karena sampai hari ini, kita tidak kunjung mampu untuk berekonsiliasi dengan apa yang terjadi puluhan tahun silam. Wijaya Herlambang, seorang penulis Indonesia, mengupas hal ini dengan cermat: baginya, apa yang terjadi pada tahun 1965-66 ditutupi dengan hegemoni budaya yang dijalin dengan cermat, membuat kesadaran kita tentang “kekerasan budaya” menjadi tertutupi oleh narasi rezim tentang G30S. Bahkan, perbincangan tentang “Komunis” masih berlangsung pada Pemilu 2014, ditiupi oleh omongan orang-orang bodoh di media massa yang ingin menyerang lawan politiknya dengan hal-hal semacam ini.

********

ADA sebuah kecenderungan bagi kelompok masyarakat tertentu, untuk “menangisi” kematian dari orang-orang yang mereka pahlawan, sembari “berteriak kegirangan” karena matinya orang-orang yang mereka anggap jahat. Hal ini, mungkin sering terjadi pada kita –umat Islam. Berapa banyak di antara kita, bahkan mereka yang mengaku aktivis gerakan Islam, yang menangisi mereka yang meninggal di Palestina tetapi justru ramai berapologi ketika diingatkan dengan apa yang terjadi pada tahun 1965-66? Banyak yang mungkin akan mengambil dalih, “komunis” membunuh orang-orang Islam dan semacamnya sebelum 1965, tetapi sedikit yang mau mengakui bahwa apa yang terjadi setelah 1965 juga tak kalah “komunis” dibanding orang-orang komunis yang mereka tuduh itu.

Judith Butler mengingatkan kita pada hal-hal semacam itu. Baginya, “tangisan” bisa menjadi sangat politis. Hal ini terjadi pada masyarakat Amerika Serikat yang menangisi para pahlawan mereka yang meninggal di Perang Dunia I, yang “membunuh” di bawah panji-panji kebesaran nasional, lalu berpesta ketika para tentara mereka membunuh warga sipil di Iraq dan Afghanistan. Ini tak jauh dari hipokrisi –kemunafikan, yang sayangnya, sering muncul dalam cara banyak orang melihat kematian, kekerasan, dan kekuasaan. Kekerasan dan kematian, ternyata, bertalian erat dengan identitas yang menjustifikasi adanya kekerasan itu.

John Roossa melihat G30S sebagai semacam pretext untuk pembunuhan dan penangkapan massal yang terjadi setelah kejadian tersebut. Apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965-66 mengingatkan kita pada kejadian yang sangat mirip yang terjadi pada tahun 2001-03, di Amerika Serikat. Setelah tragedy 9/11, ketika pesawat “teroris” dibajak dan ditabrakkan ke gedung World Trade Center. Kejadian ini disiarkan secara luas ke seluruh dunia. Tapi tragedi sebenarnya adalah apa yang terjadi setelah itu. “Islam Radikal” diburu di mana-mana. Angkatan Perang Amerika Serikat segera diluncurkan ke Afghanistan, membunuh rakyat sipil atas dalih “Perang Melawan Terorisme” dan sukses meruntuhkan rezim Afghanistan. Rupanya perburuan itu juga tidak cukup. Iraq menjadi sasaran berikutnya. Amerika Serikat sukses mengukuhkan dominasinya di Timur Tengah dengan ‘cambuk’ yang siap menghukum siapapun yang mbalelo terhadap kekuasaannya.

8 Februari 2014

Mengecam Pembatalan Sepihak Diskusi Buku "Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia"

Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal KAMMI Kultural

Indonesia kembali punya catatan kelam soal kebebasan dalam mengemukakan pendapat di muka umum. Acara bedah buku Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (jilid ke-4) yang semestinya diadakan di Perpustakaan C2O pada hari Jumat, 7 Februari 2014, pk. 18.30-21.00, dibatalkan. Keputusan pembatalan ditetapkan beberapa jam sebelum acara dimulai atas rekomendasi Polrestabes Surabaya dengan alasan keamanan.

Menurut kabar, pembatalan ini terkait dengan aksi FPI Jawa Timur yang melarang diskusi dengan alasan "Tan Malaka adalah tokoh Marxis" (Merdeka, 672). FPI dan beberapa kelompok masyarakat yang menamakan diri mereka "Gerakan Umat Islam Bersatu" mendatangi arena penyelenggaraan diskusi dan menolak diskusi dilaksanakan. Atas dasar itu, polisi dan tentara merekomendasikan panitia untuk membatalkan acara diskusi dengan alasan keamanan.

25 Januari 2014

Blog

Ahmad Rizky M. Umar 

Dalam karyanya yang terkenal, Dari Mana Kita Mulai, Kamerad Lenin menulis sebagai berikut, "...titik tolak dari aktivitas kita... memungkinkan kita membangun, memperkuat, dan memperluas organisasi, adalah dengan membentuk sebuah koran politik yang menjangkau seluruh Rusia.." Kita punya satu kata kunci: koran. 

Membentuk koran berarti menyuruh kader rajin membaca, menulis, dan mendidik rakyat. Ikhwanul Muslimin mungkin bukan organisasi Leninis, tapi mereka tahu betul pentingnya koran. Hasan Al-Banna menggerakkan majalah mingguan Al-Ikhwanul Muslimun, yang terbit selama kira-kira 6 tahun. Menyusul kemudian majalah An-Nadzir dan Ash-Shihab pada tahun 1938. Sampai Al-Banna meninggal, Ikhwan punya tradisi memaparkan pandangan-pandangannya, dari soal agama dalam hidup sehari-hari hingga politik.

Seperti kata Kamerad Lenin, koran membantu organisasi dalam memperkuat organisasi dan memperluas struktur. Hasan Al-Banna sudah membuktikan itu. Dari hanya 100an orang di awal pembentukannya, ia mampu memperluas keanggotaan Ikhwan hingga ratusan ribu pada 1940an. 

Namun, kita tidak hanya bicara soal koran sebagai tulang punggung organisasi. Koran juga jadi tempat pendidikan, adu gagasan, debat terbuka. Syahdan, dulu Sarekat Islam Cabang Semarang, tempat bersamainya komunisme generasi awal di Indonesia, punya koran yang namanya Sinar Djawa. Di Sinar Djawa itu perdebatan antara Muhammad Joesoef dan Semaoen (murid Tjokroaminoto yang berhaluan komunis) bisa disaksikan. 

Tidak ada yang tabu soal berdebat di muka publik. Zaman dulu, mungkin berdebat soal ide-ide sederhana tidak mempengaruhi elektabilitas. 

24 Januari 2014

Tahrir

Ahmad Rizky M. Umar


Ada sedikit cerita menarik dari jurnalis Mariz Tadros, mantan jurnalis Ahram, pada salah satu buku tebalnya tentang Ikhwanul Muslimin. Ini tentang anak-anak muda Ikhwan.

Awal Januari 2011, Mesir sedang gelisah. Satu bulan sebelumnya, rezim politik tumbang di Tunisia. Tentu saja gelora untuk melanjutkan 'revolusi' sedang berdebar-debar di dalam dada anak-anak muda Mesir. Aktivis politik, rata-rata dari kalangan anak muda sedang giat-giatnya menggelar rapat dan turun ke jalan, berupaya memindahkan kejadian 'tetangga' ke dalam rumah sendiri.

Suasana ini mungkin mirip dengan suasana menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia,ketika anak-anak muda yang tak sabaran sedang harap-harap cemas ketika mendengar Jepang kalah perang.

Kecemasan itu mungkin juga melanda anak-anak muda Ikhwanul Muslimin. Sebagai organisasi yang bisa dibilang tua, berusia lebih dari 80 tahun, dan selama bertahun-tahun pula menentang rezim Mubarak, Ikhwan tentu sangat berkepentingan dengan revolusi. Bayangkan, apa yang mereka usahakan sejak tragedi Manshuriyah sedang di depan mata. Mubarak lagi di ambang kehancuran.

Anak-anak muda Ikhwan sudah sejak lama bergiat di bawah tanah. Beberapa di antara mereka, seperti Muhammad Adel, Muhammad Al-Qassas, atau Islam Lutfy, sudah sejak tahun 2008 bekerjasama dengan aktivis muda liberal dalam Gerakan 6 April. Asif Bayat mencatat gerakan mereka sebagai fenomena baru dalam gerakan yang menentang Mubarak. Anak-anak muda ini menggabungkan internet dan demonstrasi untuk mendukung pemogokan buruh di Al-Mahallah Al-Kubra, yang kemudian meluas, membuat mereka segera mendapat label 'kriminal' oleh rezim Mubarak.

Tentu saja aktivitas mereka yang terbilang bebas itu bukan sikap resmi jama'ah. Tadroz mencatat ada tiga faksi besar di tubuh Pemuda Ikhwan. Faksi pertama adalah faksi taat dan secara resmi memegang 'komando' jamaah (kira-kira mereka ini yang rajin liqo dan turut dengan taklimat). Faksi kedua adalah faksi yang pasif, mereka yang bermain aman di dalam jamaah sembari tetap mengorganisir di luar. Sementara faksi ketiga lebih bandel, mereka yang aktif di mana-mana tanpa peduli itu dilarang tanzim atau tidak.

Menariknya, faksi ketiga ini adalah mereka yang jaringannya luas dan paham teknologi. Contoh: Muhammad Adel lama berkiprah sebagai IT Support Ikhwanonline, laman informasi Ikhwan yang berbahasa Arab. Adel, Lotfy, kemudian juga bergabung orang seperti Ja'far al-Zaafarani (putera Ibrahim al-Zaafarani, tokoh Ikhwan Alexandria) dan kawan-kawannya inilah yang aktif membawa semangat revolusi Tunisia ke Mesir. 

Singkat kata, bulan Januari sudah menapak akhir bulan. Situasi kian memanas. Khalid Said, seorang blogger, disiksa oleh aparat keamanan gegara aktivitas blogging-nya yang dianggap subversif dan meninggal. Kematian Khaled Said membangkitkan amarah anak-anak muda. Tanggal 25 Januari, aktivis-aktivis yang selama ini bergerak di bawah tanah memutuskan untuk turun ke jalan. 

Hari itu kemudian tercatat dalam sejarah sebagai yaum al-ghadhab; hari kemarahan. Anak-anak muda itu, termasuk di dalamnya anak-anak muda Ikhwan, turun ke lapangan Tahrirdan meneriakkan slogan-slogan yang dulunya tabu: Mubarak harus turun. Konon ada ribuan orang yang turun ke Tahrir.

Tapi ada satu hal yang menarik: di antara organ-organ yang turun ke jalan hari itu, tidak terlihat Ikhwanul Muslimin. Mereka merilis pernyataan di Ikhwanweb, laman resmi mereka, menyatakan bahwa mereka mendukung aksi tapi tidak menurunkan massa. Tidak tanggung-tanggung, perintah itu langsung dikeluarkan oleh Mursyid 'Am, Muhammad Badie. Siapa berani membantah?

Di sinilah muncul hal yang sangat penting: pernyataan ini membelah aktivis-aktivis muda Ikhwan itu. Kendati ada instruksi (sering dikenal taklimat atau bayanat) untuk tidak turun aksi, ternyata masih ada segelintir yang membandel. Di antara anak bandel itu adalah Islam Lotfy, pengacara muda Ikhwan yang justru tampil di layar televisi sebagai juru bicara aksi. Ia mewakili Gerakan 6 April.

Sikap ini tentu saja membuat Ikhwan menjadi tidak populer. Beberapa faksi progresif Ikhwan rupanya segera mendesak agar Ikhwan turut ambil bagian. Diadakanlah rapat: Tandzimakhirnya memutuskan untuk turun di hari Jumat.

Hari itu, aksi semakin membesar. Sejarah mencatat hari itu sebagai Jumat al-Ghadhab:Jumat Kemarahan. Di situlah Ikhwan turun pertama kali ke pentas 'revolusi'.

Tadros kemudian mencatat, Ikhwan hanya turun sampai maghrib, tidak bermalam di Tahrirseperti organ lainnya. Tandzim memerintahkan seluruh barisan Ikhwan menarik diri. Tapi, sebagaimana Tadroz mencatat, tidak semua anak muda Ikhwan menaati perintah tanzim-nya. Mereka lebih memilih bertahan di jalan dan dengan demikian 'membangkang' terhadap jamaah.

Dalam tradisi di Ikhwan (yang kemudian secara lebay dipraktikkan oleh simpatisan Ikhwan di Indonesia), "pembangkangan" serupa dengan kejahatan. Mereka yang tidak taat dengan perintah tanzim, struktur penguasa, harus siap dikeluarkan. Rupanya anak-anak muda ini siap menghadapi risiko dikeluarkan dan dikucilkan dari jamaah ini. Mereka tetap bertahan diTahrir.

Dan ternyata, sikap mereka terbukti tepat. Hari demi hari, demonstrasi kian membesar dan rezim kian kalap. Penangkapan terjadi di mana-mana. Akhirnya, tanzim Ikhwan tidak tahan juga. Mereka menyatakan diri bergabung dengan barisan revolusi hingga tumbangnya Mubarak pada 11 Februari 2011.

Hari ini, tiga tahun sudah berselang sejak Yaum al-Ghadhab. Banyak peristiwa yang terjadi. Anak-anak muda yang membangkang itu sebagian bergabung kembali dengan ayah kandungnya, tapi beberapa memilih melanjutkan revolusi dengan anak-anak muda lain.

Islam Lotfy, Muhammad al-Qassas, atau Muhammad Abbas kemudian bergabung denganRevolutionary Youth Council, salah satu kelompok minor yang muncul setelah revolusi. Mereka mendukung pencalonan Abdul Mun'im Abul Futuh sebagai presiden (yang lagi-lagi menentang jamaah). Kali ini, mereka tak semujur sebelumnya. Rupanya Maktab Irsyadsudah menentukan Muhammad Mursy sebagai calon presiden, dan semua kader harus mendukung.

Dalam tradisi Ikhwan yang sangat doktriner, hanya ada dua pilihan: mendukung pilihan Jamaah atau keluar. Anak-anak muda itu rupanya memilih yang kedua. Mereka tak sendiri. Bersama mereka, keluar pula tokoh-tokoh progresif Ikhwan lain, baik yang tua atau yang muda, karena mendukung Abul Futuh. 

Keputusan inilah yang mungkin akan disesali nantinya oleh Ikhwan. Mendepak anak-anak muda kritis, yang membangkang pada tanzim, hanya mengurangi kekuatan jamaah. Terbukti, kekuatan Ikhwan yang tersisa hanya berumur setahun: Ikhwan dihabisi pada 2013 dan Mesir kembali ke masa kelam bersama militer. 

Cerita di lapangan Tahrir pada tanggal 25 Januari 2011 lalu, kendati kini kita kenang dengan getir, menyiratkan satu hal penting: tidak perlu alergi dengan perbedaan dan kritik. Setua apapun organisasi kita, pasti ada anak-anak muda yang darah muda-nya berderap dan menginginkan perubahan. Mereka bukanlah musuh. Kadang-kadang, merekalah justru yang mencetak golden goal di waktu injury time.

Setidaknya, Ikhwanul Muslimin sudah membuktikan satu hal: mereka yang bergerak tanpa restu, justru ialah mereka yang membuka jalan bagi perubahan di masa depan.

Selama gerakan mahasiswa Islam di Indonesia hanya patuh pada perintah ustadz yang sedang berburu suara di Pemilu lantas membungkam suara anak-anak muda yang kritis, mungkin perlu ada yang mengingatkan: jangan sampai menutup pintu perubahan.

Sebab, tidak selamanya kemenangan itu dicapai lewat 3 besar Pemilu. Jangan-jangan, seperti di Mesir, menang Pemilu itu justru awal kehancuran. 

Selamat menyambut tahun 2014, bro!

**Mengenang Revolusi Mesir yang dibajak tentara, 25 Januari 2011-25 Januari 2014.

22 Desember 2013

Tariq Ramadan


Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal KAMMI Kultural

Anda anak KAMMI dan dianggap bandel hanya gegara tidak mencoblos pilihan syuro di Pemira Kampus? Jangan patah semangat. Mungkin cerita di bawah ini bisa sedikit menghibur. 

Pada tahun 1954, seorang wanita -dan keluarganya- harus dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya dibunuh dan teman-teman ayahnya harus berhadapan dengan rezim militer yang baru saja terbentuk. Insiden percobaan pembunuhan sang Jenderal Militer membuatnya tak punya pilihan lain: masuk penjara atau keluar dari Mesir. 

Ia kemudian memilih yang kedua.

Perempuan itu ialah Wafa Al-Banna, puteri tertua Hasan Al-Banna. Ayahnya adalah pemimpin besar Ikhwanul Muslimin, organisasi Islam yang pada waktu itu menjadi oposisi terkuat rezim Gamal Abdul Nasser. Tahun 1954, Nasser melakukan pembersihan setelah insiden Manshuriyyah. Ia menangkapi aktivis-aktivis Ikhwanul Muslimin.

Wafa segera meninggalkan Mesir. Suaminya, Said Ramadan, kebetulan punya koneksi yang cukup baik dengan jejaring Muslim di Eropa. Segeralah mereka meninggalkan Mesir. Swiss, sebuah negara kecil di Eropa yang sangat terkenal dengan penghargaan atas privasi penduduknya, menjadi pilihan utama. Jadilah mereka berlabuh di Swiss sebagai eksil.

Menjadi eksil di negara Barat tentu bukan sesuatu yang mudah. Kita mungkin teringat dengan Shobron Aidit, Umar Said, atau eksil-eksil Indonesia yang harus lari ke Eropa karena G30S. Mereka yang kemudian menjadi eksil mendirikan Restoran Indonesia, yang konon, menjadi tempat nongkrong terkenal bagi orang-orang Indonesia di Paris. 

Said menjalani masa-masa yang berat. Seperti diutarakan puteranya, Said Ramadan kemudian aktif dalam pergaulan lintas-agama. Setelah menyelesaikan disertasi di Universitas Cologne, ia mendirikan Islamic Center di Geneva, yang kemudian menjadi pusat aktivitas umat Islam di Swiss, hingga kini.

Tapi ini bagian paling penting: tahun 1962, lahirlah putera Said dan Wafa, Tariq. Tiga tahun sebelumnya, lahir kakaknya Hani. Tariq dan Hani lahir sebagai eksil, tetapi itu memberikan warna pada mereka. Keduanya mengenyam pendidikan dan besar di kalangan umat Islam Swiss yang di kemudian hari memberikan warna berbeda pada dirinya dengan saudara-saudaranya aktivis Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Sebagai cucu dari tokoh besar Hasan Al-Banna, Tariq dan Hani tentu saja sudah diperkenalkan dengan Ikhwanul Muslimin dan pergerakan Islam. Akan tetapi, hidup sebagai eksil memberikan warna baru pada keduanya. Tariq belajar di Eropa. Ia meraih gelar Master di bidang Sastra dan Filsafat, serta PhD di bidang Studi Islam dari Universitas Jenewa. Tak tanggung-tanggung, Tariq menulis tentang Frederich Nietzsche.

Bagi seorang aktivis Ikhwan, pilihan mempelajari Nietzsche bisa jadi agak aneh. Nietzsche, minimal, adalah seorang agnostik. Ia mendeklarasikan dalam bukunya, "Tuhan Sudah Mati!" Tapi tidak demikian bagi Tariq muda. Tariq terpana dengan pertanyaan sederhana Nietzsche, "Apakah agamamu telah membantumu untuk menghindari pertanyaan tentang siapa dirimu? darimana kekuatan yang kamu miliki itu berasal?"

Di sinilah kita melihat kulminasi perjalanan intelektual Tariq. Memulai dari tradisi filsafat Nietzschean yang, pada awalnya, nihilistik, ia memahami kembali Islam. Baginya, esensi manusia harus dibebaskan dari persepsi yang sudah terlanjur established. Nietzsche mengajarinya untuk menghargai kehidupan. Dan untuk itulah maka memahami The Other,daripada terjebak dalam dunia persepsi dan doktrin, Good dan Evil harus dilampaui. Itulah makna Islam, sebagaimana dipahami oleh Tariq muda.

Pandangan ini dibuktikannya secara konsisten di kemudian hari. Ia banyak menjadi juru bicara umat Islam dalam dialog dengan Barat, sesuatu yang ia sebut sebagai 'rekonsiliasi'. Inilah manifestasi filsafat Nietzschean yang secara kreatif diramu oleh Tariq Ramadan dengan pendekatan Islam yang ia yakini. Predikatnya sebagai cucu dari Hasan Al-Banna, seorang pendiri organisasi Islamis radikal, tidak menghalanginya untuk berdialog dan mendudukkan Islam dan Barat dalam satu meja. 

Apa yang dilakukan oleh Tariq Ramadan inilah yang banyak memberikan persepsi berbeda tentang Ikhwan di dunia Barat. Tapi ini juga punya ujung yang lain. Pandangan intelektualnya inilah yang menggiringnya pada titik yang membedakan dirinya dengan aktivis Ikhwan yang konservatif di Mesir. Baginya, Islam Politik itu tidak, dan tidak pernah akan, tunggal. Ia mengapresiasi gagasan yang berkembang dari murid-murid Hasan al-Hudaybi yang demokratis dan progresif (di antara yang notable: Abdul Mun'im Abul Futuh atau Recep Erdogan di Turki). Baginya, kebangkitan Islam hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran terbuka.  

Dan satu lagi: Tariq Ramadan mendukung sekularisasi. Baginya, sekularisasi menjadi keniscayaan manakala Islam sudah menjadi sandaran etis bagi aktus politik bernegara. Problem utama umat Islam bukanlah negara Islam atau bukan. Problem utama umat adalah keterbelakangan, kebodohan, dan kegagapan dalam bermain dengan globalisasi. Dan bagi Tariq, jawabannya menjadi jelas: rekonsiliasi!

Bisa jadi, ada yang akan menyebut Tariq Ramadan seorang liberal. Tapi Tariq bukannya tidak paham Islam. Ia belajar banyak di Mesir ketika kembali kesana tahun 70an -ketika Sadat membebaskan banyak aktivis Ikhwan dari penjara. Tapi inilah jalan hidup Tariq. Sebagai seorang intelektual, ia beranjak melampaui sekat-sekat batas persepsi yang membedakan dirinya, Muslim, dengan The Other -Barat. Yang jelas, tanpa Tariq dan kawan-kawannya yang dianggap liberal itu, bisa jadi takkan ada orang Eropa yang mengenal Islam secara genuine dan terketuk pintu hatinya untuk memahami Islam secara lebih adil. 

Di sini kita bertemu dengan gagasan 'rekonsiliasi' Tariq yang sarat dengan anggapan 'liberal' atau 'sekuler' itu.

Bagi aktivis KAMMI, mungkin gagasan rekonsiliasi ini perlu direnungkan. Tidak usah jauh-jauh. Mungkin kita perlu rekonsoliasi dengan orang-orang yang dianggap futur atau bandel. Bisa jadi, merekalah Tariq Ramadan yang berkembang di tubuh gerakan. 

Wallahu a'lam bish shawwab.

Catatan: pemikiran Tariq Ramadan dapat dilihat pada beberapa wawancara dan bukunya yang cukup bagus, "Islam and the Arab Awakening" (Oxford University Press, 2012). Profilnya pernah diangkat di Jurnal IBHAR tahun 2006. 

15 September 2013

Memahami Kapitalisme Neoliberal: Sebuah Pengantar


Ringkasan Diskusi Kultural, 8 September 2013. Dirangkum oleh Ahmad Rizky M. Umar dari Pemaparan Awalil Rizky (Ketua II Perhimpunan BMT Indonesia)
 
Yang paling mengerikan dari neoliberalisme bukanlah ia merampok, mengeksploitasi bangsa kita, tetapi neoliberalisme telah menjadikan diri kita seperti mereka.

Ada banyak cara untuk mengidentifikasi apa itu neoliberalisme. Saya ingin melacak neoliberalisme jauh ke belakang. Neoliberalisme hanyalah bentuk pasif dari kapitalisme. Jadi, neoliberalisme nanti bisa saja berubah, tapi kapitalisme tetap akan bertahan. Ia adalah wajah/tampilan dari kapitalisme. Sebab, ia adalah bentuk paling mutakhir dari kapitalisme (global). 

Jadi, substansi utama dari neoliberalisme itu adalah kapitalisme. Maka, kita perlu mengetahui apa itu kapitalisme terlebih dulu.

Marx mengatakan, realitas adalah apa yang ada di alam nyata. Begitu juga kapitalisme. Tapi, bukan berarti kapitalisme tidak dibangun oleh ide-ide. Ia adalah “ide” yang mengejawantah dalam bentuk material tertentu. Dalam konteks ini, kita bisa mengatakan bahwa kapitalisme adalah kumpulan ide. Tapi di saat yang bersamaan, ia adalah juga fakta –fakta-fakta historis ekonomi yang termaterialisasi dalam kehidupan nyata karena ia dominan. Kapitalisme neoliberal, dengan demikian, adalah ide –tetapi juga ia adalah tatanan yang terwujud karena ia dominan dan dipertahankan melalui praktik-praktik kekuasaan tertentu.

Kapitalisme dibentuk oleh surplus (keuntungan) yang dinikmati oleh para pemilik modal (kapital). Surplus ekonomi dalam kapitalisme, surplus terbesarnya, dinikmati oleh segelintir orang yang punya modal. Jadi, salah kalau ada yang menganggap bahwa kapitalisme itu adalah “swasta penting, negara tidak perlu masuk”. Kalau dengan definisi yang saya pakai di atas, pertanyaan paling penting adalah: siapa yang menikmati surplus gerakan tersebut? Inilah yang perlu ditelaah.

13 September 2013

Mursi, PKI, dan Sejarah yang Berulang

sebelumnya dimuat di Jurnal Indoprogress (http://indoprogress.com/mursi-pki-dan-sejarah-yang-berulang/) dan ditampilkan kembali untuk tujuan pendidikan. 

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar, Alumnus FISIPOL UGM dan Pegiat Forum KAMMI Kultural

DALAM Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, Karl Marx menulis, ‘Sejarah selalu berulang pada dirinya sendiri, ‘pertama sebagai tragedi, kemudian menjadi lelucon’ (history repeats itself, ‘the first as tragedy, then as farce.’) Sepertinya, taushiyah Marx ini menjadi sangat relevan ketika kita memelototi stasiun televisi dan posting teman-teman di media sosial yang memberitakan tragedi kemanusiaan di Timur Tengah sana.

Kudeta 1965
Di tahun 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang berada dalam kondisinya yang paling prima. Ia ‘dekat’ dengan lingkar inti kekuasaan Bung Karno –yang memerlukan PKI sebagai legitimasi kekuasaannya— memiliki basis-basis buruh dan tani yang loyal, serta tidak memiliki pesaing politik yang setara setelah PSI dan Masyumi, dibubarkan oleh Soekarno atas desakan TNI angkatan darat. Satu-satunya pesaing politik PKI terkuat hanyalah TNI-AD

Namun, sebuah kejadian yang berlangsung cepat di malam 30 September 1965 membuat keadaan berubah 360 derajat. Tidak saja bagi PKI, tapi bagi bangsa ini secara keseluruhan.

PKI dituding melakukan upaya ‘pengambilalihan kekuasaan secara tidak sah’ dengan menculik para Jenderal Angkatan Darat. Isu ‘Dewan Jenderal’ dihembuskan. PKI memang sedang bersitegang dengan militer dalam berbagai isu. Keesokan harinya, TNI-AD mengambil-alih beberapa fasilitas publik dan mulai menyatakan ‘perang’ terhadap PKI dan organisasi underbouw-nya.

19 Juli 2013

Intelektual (2)

Oleh Ahmad Rizky Mardhatillah Umar.S.IP
Pegiat KAMMI Kultural

Antonio Gramsci pernah bilang, "Semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua anggota masyarakat punya fungsi intelektual". Kira-kira, kalimat yang ia tulis semasa berada di penjara Mussolini tersebut dapat digambarkan dalam cerita berikut.

Pada tahun 1971, Hasan al-Hudaiby baru saja keluar dari penjara Mesir. Bersama banyak tokoh Ikhwanul Muslimin yang lain, ia dibebaskan oleh Presiden Mesir yang baru, Anwar Sadat, dan diberikan kesempatan untuk aktif kembali berdakwah di masyarakat.

Namun Sadat punya satu permintaan: tidak boleh berpolitik. Kata Sadat, "yang ingin berpolitik silakan masuk partai, dan siapa yang ingin beragama silakan ke mesjid".

Hudaiby dan penerusnya, Umar Tilmisani, mencoba mengurus pendirian partai baru kepada Sadat, namun ditolak.

Tak lama berselang, Hasan al-Hudaiby meninggal dunia. Ia digantikan oleh Umar Tilmisani, seorang tokoh Ikhwan yang juga pernah hidup bersama Hasan al-Banna. Tilmisani langsung diserahi tugas oleh jama'ah: membangun kembali Ikhwan yang porak-poranda akibat tekanan politik zaman Nasser.

Karena tak boleh berpolitik, tentu saja Ikhwan tak bisa lagi seperti dulu. Tapi Tilmisani punya strategi lain.

Intelektual(1)

Oleh Ahmad Rizky Mardhatillah Umar.S.IP
Pegiat KAMMI Kultural


Ada satu hal yang menarik, jika kita mencermati beberapa tahun belakangan: soal Turki.

Sejak tahun 2003, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) memenangi Pemilu Turki dan membentuk pemerintahan. AKP, kita tahu persis, adalah partai dengan haluan 'Islamis'; mereka yang percaya dengan 'Islam' sebagai referensi gerakan mereka (meminjam Bobby Sayyid). Fenomena ini agak mengejutkan, mengingat beberapa tahun sebelumnya, eksponen-eksponen Islamis baru saja tersungkur oleh Kudeta. Terpilih sebagai Perdana Menteri, Recep Tayyip Erdogan, 'murid' dari Necmettin Erbakan, mantan Perdana Menteri yang juga dikudeta oleh kekuatan Kemalis Turki.

Erdogan segera saja mendapatkan perlawanan sengit. Sejak Ataturk menumbangkan kekhalifahan di tahun 1924, struktur kekuasaan selama bertahun-tahun didapuk oleh para 'Kemalis' -mereka yang loyal kepada Mustafa Kemal Ataturk. Para Kemalis ini utamanya adalah para militer yang menjadi 'penjaga gawang' rezim politik yang ada. Mungkin mirip dengan para Nasseris di Mesir yang baru saja melakukan kudeta terhadap Mohammad Morsy.