Tampilkan postingan dengan label Editor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Editor. Tampilkan semua postingan

25 Mei 2015

Dari Redaksi

Forum Diskusi KAMMI Kultural adalah forum yang diinisiasi oleh beberapa orang kader KAMMI (dan sekarang beberapa sudah menjadi alumni) sebagai wadah untuk mengembangkan nuansa intelektualitas di dunia gerakan. Forumnya cair, siapapun yang ingin berdiskusi bisa hadir dan ikut mendiskusikan tema-tema yang dibahas/menulis. 

Oleh sebab itu, Forum Diskusi KAMMI Kultural tidak pernah menyelenggarakan Training/Daurah/Pelatihan dalam bentuk apapun. Semua aktivitas mengenai kami bisa dibaca di website ini.  Kami tetap berpijak pada nalar intelektual profetik yang diusung oleh KAMMI dan tidak berminat untuk mengadakan pelatihan-pelatihan yang tidak jelas.

Bagi yang tertarik dengan diskusi dan wacana tentang KAMMI, sangat dianjurkan untuk menjadi anggota KAMMI di Komisariat-Komisariat terdekat dengan mengikuti Daurah Marhalah. 

Maka dari itu, jika ada yang menyelenggarakan kegiatan yang mengatasnamakan Forum Diskusi KAMMI Kultural di kota anda, mohon bisa disampaikan kepada kami melalui alamat email forum.kultural@gmail.com. Mari berdiskusi secara sehat dan bernalar.

Terima Kasih,
Redaksi

22 Mei 2015

Rohingya dan Kekeliruan Cara Pandang Kita Soal Identitas

oleh: Ahmad Rizky M. Umar
Editor Jurnal Kultural

Pada tanggal 21 Mei 2015, laman Selasar.com dan Mata Garuda menerbitkan satu infografis menarik: "Kontribusi Sang Naga bagi Indonesia". Infografis sederhana tersebut memetakan kontribusi-kontribusi positif warga keturunan Tionghoa bagi kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia, sekaligus membantah sebuah stigma, bahwa mereka adalah Liyan bagi kemerdekaan Indonesia.

courtesy of selasar.com
Saya ingin merefleksikan infografis tersebut dengan cara pandang yang sedikit berbeda. Selama ini, cara kita memandang orang-orang keturunan lebih banyak dipenuhi stigma --memandang apa yang nampak sebagai kebenaran yang menyeluruh. Sesuatu yang kemudian, dalam kasus lain, terbukti bisa sangat berbahaya.

Setidaknya cerita yang saat ini hangat di pesisir Sumatera dan beberapa negara lain di Asia Tenggara mencerminkan hal tersebut. Sejak pekan lalu, dunia tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya gelombang pengungsi Rohingya di beberapa negara Asia Tenggara. Mereka sejak bertahun-tahun silam sudah mencari perlindungan ke beberapa negara dan dikabarkan ingin kembali. 

8 Januari 2015

'Muslim Barat' dan Tragedi Penembakan di Paris: Terjemahan Wawancara dengan Tariq Ramadan

Pengantar Editor
Hari ini dunia dihentakkan oleh satu tragedi: penembakan kantor kartunis Charlie Hebdo dan beberapa orang lain di  kantornya di Paris, Perancis. Tragedi ini jelas menandai babak baru hubungan antara 'Islam' dan peradaban 'Barat'. Selama ini, hubungan antara 'Muslim' dan Masyarakat Barat yang telah renggang sejak tragedi 9/11 bisa jadi kembali merenggang akibat perbuatan tidak bertanggung jawab ini. Padahal, problem paling mendasar dari penembakan tersebut bukanlah agama, karena Islam sendiri tidak menganjurkan untuk melakukan kekerasan terhadap orang yang tak bersalah kecuali dalam hukum dan otoritas yang sah, melainkan problem-problem yang lebih bersifat 'imanen': ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi antara 'Eropa' dan 'Dunia Timur', misalnya, yang kemudian berimplikasi pada masalah-masalah keimigrasian di Eropa. 

Dalam bukunya, Western Muslims and The Future of Islam (Oxford University Press, 2004), Tariq Ramadan telah mendorong umat Islam di Eropa agar tidak lagi meliyankan diri, dengan menganggap orang-orang 'Barat' sebagai The Other -dan dengan demikian mengekslusi diri dari pergaulan masyarakat. Tariq berangkat dari konsep islah (perbaikan, reform) yang menurutnya mendasar pada pengenalan diri seorang Muslim, dan inilah tujuan dan tugas-tugas seorang Muslim pada umumnya. Konsep ini juga dikenal dalam tradisi Ikhwan, islah an-nafs, sesuatu yang fondasional dalam proses perubahan sosial yang dicita-citakan oleh Hasan al-Banna. Bagi Tariq, gerakan-gerakan perbaikan memerlukan revolusi intelektual yang menjadikan diri seorang Muslim bisa berbicara sejajar dengan masyarakat Barat, dan di saat yang bersamaan membunuh 'inferiority complex' yang selama ini muncul ketika seorang Muslim berhadapan dengan masyarakat Barat. Menurut Tariq, dengan keterlibatan  di dunia pendidikan, pembangunan sosial, dialog-dialog antar-agama, seorang Muslim akan bisa dengan percaya diri menghilangkan perasaan menjadi The Other di dalam konteks masyarakat di mana ia menjadi minoritas, dan percaya bahwa semua manusia, dari manapun ia berasal adalah sejajar. Dengan cara inilah seorang 'Muslim Barat' tidak lagi menjadi liyan bagi masyarakat Barat di mana ia tinggal.

6 Februari 2014

KAMMI MEMBACA! Undangan Menulis 'Ulasan Buku'

Anda suka membaca buku? Atau anda kader KAMMI yang taat pada mantuba dan sedang membaca buku-buku yang direkomendasikan oleh manhaj? Jangan biarkan bacaan anda hilang begitu saja!

Semangat membaca buku sudah diperintahkan oleh Allah pada wahyu yang diturunkan pertama kali: Iqra'. Membaca, dalam lima ayat tersebut, harus diikuti dengan 'menulis' dan 'mengajarkan' kepada manusia, sehingga pengetahuan yang didapat dari buku bisa menyebar dan menghasilkan pengetahuan baru., 

Sejak tahun 2013, Jurnal KAMMI Kultural mengelola rubrik 'Ulasan Buku' yang menghadirkan ulasan dan kritik kader KAMMI atas buku yang dibaca. Rubrik ini diasuh oleh Ahmad Rizky M. Umar (Yogyakarta). Di tahun 2013, ada 6 artikel ulasan buku yang terbit. Ini menandakan adanya apresiasi yang baik dari beberapa kader KAMMI terhadap buku yang sedang mereka baca.

Di tahun kedua (2014) ini, Jurnal KAMMI Kultural kemballi memfasilitasi kader-kader KAMMI yang membaca buku untuk menuliskan ulasan dan kritiknya atas buku-buku yang sudah dibaca. Buku yang diulas bebas, semua genre dari sastra, politik sosial, budaya, agama, keislaman, filsafat, hingga buku-buku biografi. Direkomendasikan untuk mengulas buku dengan tema Gerakan Politik Islam dan buku-buku ideologi KAMMI. 

Beberapa kriteria untuk tulisan di rubrik ini antara lain: 
1. Tulisan diketik dalam format MS Word sebanyak 1000-1500 kata.
2. Mencantumkan identitas buku, minimal nama penulis, judul buku, dan penerbit.
3. Buku yang diulas bebas, lebih disukai yang mengambil tema Gerakan Politik Islam dan buku-buku idelogi KAMMI.
4. Pengulas diharapkan dapat memberikan kritik atas kelemahan yang ada di buku tersebut, agar bisa memberikan perspektif yang baru terhadap isi buku.
5. Tulisan dikirim via email ke rizky_mardhatillah@yahoo.co.id (Umar) atau huruharaunmuh@gmail.com (Azami).
6. Editor berhak mengedit isi tulisan selama tidak mengubah substansi.

Besar harapan kami agar kader-kader KAMMI dapat berpartisipasi menulis dalam Jurnal KAMMI Kultural dan rubrik 'ULASAN BUKU'. Jika pada Mukernas lalu ada wacana untuk membuat gerakan KAMMI membaca, inilah saatnya membuktikan wacana tersebut. Sebab, inti dari gerakan membaca adalah menuliskan kembali dan mengajarkan isi bacaan tersebut kepada manusia...

Mari menulis di Jurnal KAMMI Kultural!

"Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan" (Pramoedya Ananta Toer)

4 Februari 2014

Undangan Menulis di Jurnal KAMMI Kultural

Jurnal KAMMI Kultural adalah ruang aktualisasi pemikiran alternatif kader-kader KAMMI. Dikelola oleh para pegiat Forum Diskusi KAMMI Kultural dan telah berjalan hampir satu tahun sejak awal tahun 2013. Jurnal ini menghimpun ratusan tulisan yang mendiskusikan banyak hal, terutama masalah-masalah ke-KAMMI-an, Gerakan Islam, politik Islam, maupun perkembangan pemikiran Islam kontemporer.

Sejak tahun 2013, Jurnal KAMMI Kultural telah menerbitkan banyak artikel yang menjadi referensi tentang ideologi dan perspektif alternatif tentang gerakan KAMMI. Jurnal ini dibaca oleh banyak kalangan, tidak hanya dari gerakan Islam, melainkan juga dari peneliti maupun aktivis gerakan lain. Jurnal KAMMI Kultural membaktikan diri sebagai portal pengetahuan yang bertujuan untuk mencerdaskan aktivis gerakan Islam.