Pegiat KAMMI di Surabaya
Saat terjadi gejolak di tubuh Sarikat Islam yang melibatkan golongan kiri, seperti Semaoen dkk (SI-Merah) dengan golongan Islamis Agus Salim dkk (SI-Putih), H.O.S Tjokroaminoto menulis buku berjudul Islam dan Sosialsme. Buku ini ditulis guna menghalau pengaruh kelompok kiri komunis dalam tubuh SI. Dalam buku yang dicetak berulang-ulang hingga dekade 1950an ini, Tjokroaminoto menyampaikan bahwa seorang muslim dengan sendirinya akan menjadi sosialis, tidak perlu ikut ikutan komunisme ala barat, sosialisme ala barat. Maka, Islam sebagai sebuah agama yang syumul, sebagai sebuah way of life yang komperhensif dengan sendirinya bersifat sosialis. Tentu saja, sosialisme yang berada dalam pihakan Islam yang syumul ini sangat berbeda dengan sosialisme yang muncul dan dipraktikkan di Eropa sana.
Jika pada abad ke-20 islam banyak bergesekan dengan ideologi sosialis yang sedang naik daun sebagai ideologi perlawanan terhadap imperialisme dan kapitalisme barat, maka pada abad ke-21 ini Islam banyak bersinggungan dengan liberalisme yang diklaim oleh Francis Fukuyama dalam bukunya, The End of History. sebagai pemenang final dari benturan ideologi di tatanan dunia saat ini. Atau, yang dipercaya sebagai representasi 'Barat' dalam benturan antar peradaban -versi Samuel Huntington- sampai akhir hayat dunia nanti. Maka, pertanyaan yang perlu dimunculkan: apakah Islam yang dipercaya oleh pengikutnya sebagai agama yang syumul, sebagai sebuah way of life yang komperhensif juga bersifat liberal sebagaimana Islam juga bersifat sosialis seperti kata Tjokroaminoto?

