10 Januari 2015

Apa Artinya Insiden Charlie Hebdo bagi Islam dan Politik Global?

Ahmad Rizky M. Umar
Peneliti dan Aktivis

Tragedi Charlie Hebdo segera menjadi perdebatan publik. Beberapa cendekiawan muslim seperti Tariq Ramadan, Farish Noor, atau Yasir Qady segera mengecam penembakan, namun ada satu hal yang perlu dicermati: apa yang dilakukan oleh Charlie Hebdo dalam beberapa satirnya juga tak bisa diterima. Keduanya, baik penembakan atau kartun satir yang jelas-jelas menghina simbol-simbol identitas Islam, sama-sama keliru dan fatal. 

Tapi mari kita berpikir lebih ke depan. Apa dampak insiden ini bagi tatanan politik global ke depan? Apakah penembakan ini sebentuk 'sinyalemen' pertentangan yang lebih keras antara 'Islam' dan 'Barat'? Apakah bakal ada gelombang baru 'Islamofobia' terutama di negara-negara Eropa? Ataukah  ini sebetulnya sinyal pengaturan keimigrasian yang lebih ketat di negara Barat?

9 Januari 2015

Islam dan Pancasila: Sebuah Paradigma Baru

oleh: Abdul Jabbar
Ketua Umum KAMMI Kalimantan Barat

Prolog
Ideologi merupakan gagasan dasar dari sebuah komunitas bangsa berdasarkan pandangan hidup dan pengalaman empiriknya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak dapat disangkal bahwa setiap bangsa dan negara harus memiliki dan mengembangkan sebuah ideologi. Rapuh serta tegarnya bangsa dan negara amat ditentukan oleh kekuatan sebuah ideologi dalam menghadapi tantangan dan ujiannya. Tantangan dan ujian tersebut, menurut Alfian (2000) meliputi 3 dimensi yaitu dimensi idealitas, realitas dan fleksibilitas. Demikian pula halnya dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Mendialogkan Pancasila merupakan suatu keniscayaan, tidak hanya pada spektrum filosofis namun juga pada tataran teknis. Bahkan dengan prinsip bahwa Pancasila sebagai ideologi terbuka telah membuat diskusi yang tidak ada habisnya. Buya Hamka misalnya, yang mengkritik Sukarno atas tafsir beliau yang menyatakan bahwa perasan Pancasila itu akan menjadi satu prinsip saja, yaitu “Gotong Royong”. Sebagai balasan, Buya Hamka malah berpendapat bahwa Pancasila tidak perlu diperas namun cukup dicari akar tunggangnya yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Tulisan ini tidak bermaksud hadir diantara perdebatan tokoh-tokoh tersebut, akan tetapi diharapkan dapat menjadi perspektif baru dalam memahami Pancasila sebagai ideologi bangsa kita. Di sini, Pancasila diletakkan sebagai dasar untuk memahami periodisasi penegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga Indonesia bisa berada dalam wujudnya yang paripurna, menyatu ke dalam dasar-dasar normatif Pancasila tersebut.

8 Januari 2015

'Muslim Barat' dan Tragedi Penembakan di Paris: Terjemahan Wawancara dengan Tariq Ramadan

Pengantar Editor
Hari ini dunia dihentakkan oleh satu tragedi: penembakan kantor kartunis Charlie Hebdo dan beberapa orang lain di  kantornya di Paris, Perancis. Tragedi ini jelas menandai babak baru hubungan antara 'Islam' dan peradaban 'Barat'. Selama ini, hubungan antara 'Muslim' dan Masyarakat Barat yang telah renggang sejak tragedi 9/11 bisa jadi kembali merenggang akibat perbuatan tidak bertanggung jawab ini. Padahal, problem paling mendasar dari penembakan tersebut bukanlah agama, karena Islam sendiri tidak menganjurkan untuk melakukan kekerasan terhadap orang yang tak bersalah kecuali dalam hukum dan otoritas yang sah, melainkan problem-problem yang lebih bersifat 'imanen': ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi antara 'Eropa' dan 'Dunia Timur', misalnya, yang kemudian berimplikasi pada masalah-masalah keimigrasian di Eropa. 

Dalam bukunya, Western Muslims and The Future of Islam (Oxford University Press, 2004), Tariq Ramadan telah mendorong umat Islam di Eropa agar tidak lagi meliyankan diri, dengan menganggap orang-orang 'Barat' sebagai The Other -dan dengan demikian mengekslusi diri dari pergaulan masyarakat. Tariq berangkat dari konsep islah (perbaikan, reform) yang menurutnya mendasar pada pengenalan diri seorang Muslim, dan inilah tujuan dan tugas-tugas seorang Muslim pada umumnya. Konsep ini juga dikenal dalam tradisi Ikhwan, islah an-nafs, sesuatu yang fondasional dalam proses perubahan sosial yang dicita-citakan oleh Hasan al-Banna. Bagi Tariq, gerakan-gerakan perbaikan memerlukan revolusi intelektual yang menjadikan diri seorang Muslim bisa berbicara sejajar dengan masyarakat Barat, dan di saat yang bersamaan membunuh 'inferiority complex' yang selama ini muncul ketika seorang Muslim berhadapan dengan masyarakat Barat. Menurut Tariq, dengan keterlibatan  di dunia pendidikan, pembangunan sosial, dialog-dialog antar-agama, seorang Muslim akan bisa dengan percaya diri menghilangkan perasaan menjadi The Other di dalam konteks masyarakat di mana ia menjadi minoritas, dan percaya bahwa semua manusia, dari manapun ia berasal adalah sejajar. Dengan cara inilah seorang 'Muslim Barat' tidak lagi menjadi liyan bagi masyarakat Barat di mana ia tinggal.

7 Januari 2015

Intelektual KAMMI: Profetik Menuju Kolektif!

Penulis: Alikta Hasnah Safitri, 

Sekretaris Bidang Medkominfo KAMMI UNS, Bergiat di KAMMI Kultural Solo


KAMMI sebagai organisasi pergerakan mahasiswa Islam merumuskan substansi spirit, paham, corak, landasan berfikir dan bertindaknya dalam Paradigma Gerakan KAMMI. Seperangkat konsep inilah yang akan membentuk kerangka pemikiran guna memahami realita yang ada, mendefinisikannya secara utuh, mengkategorikannya dalam bagian-bagian, lalu mengkorelasikannya dengan kategori atau segmentasi yang lain sehingga lahirlah sebuah pemahaman yang utuh atas kenyataan yang dihadapi. Pada akhirnya, reaksi dari sejumlah hal tadi akan diejawantahkan dalam tindakan nyata yang sifatnya dzahir.

Paradigma Gerakan KAMMI terdiri dari empat frasa inti, yakni: KAMMI sebagai Gerakan Dakwah Tauhid, KAMMI sebagai Gerakan Intelektual Profetik, KAMMI sebagai Gerakan Sosial Independen, dan KAMMI sebagai Gerakan Politik Ekstraparlementer. Keempat frasa ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling memiliki keterikatan dan keterpaduan yang erat. Untuk memudahkan pemahaman tentang bagaimana KAMMI memaknai konsepsi ‘Intelektual Profetik’, terlebih dahulu kita harus mengenai paradigma gerakan KAMMI pertama, yakni KAMMI sebagai gerakan dakwah tauhid.

Menegaskan KAMMI sebagai Gerakan Sosial dan Pengusung 'Ideologi Alternatif'

Oleh: Anis Maryuni Ardi
Pegiat Diskusi Kammi Kultural Jawa Timur

Ini masih di awal bulan, dan masih di awal tahun. Kita masih sempat menata apa yang terserak, membangun kenangan dan menghapus jejak yang telah lalu. Kita tetap radikal romantis, yakni mengakar pada bumi untuk menjadi khalifatullah fil ardh, dan selalu bersama berpegangan pada ikatan-Nya menebar aroma perjuangan melalui beberapa tangkai mawar haroki. Ketahuilah perjuangan ini tak akan pernah usai, melalui masjid, kampus dan aspal jalanan, kita akan tetap berjuang, berjuang sampai tidak ada kebhatilan di muka bumi.

Masih melekat dalam diri kita status atau sekedar semangat mahasiswa. Mahasiswa diasumsikan oleh publik sebagai seorang yang mempunyai status tinggi. Kapasitas mental dan sosialnya patut dibanggakan. Melalui idealisme yang potensial tetap terpelihara, keterbukaan dan kreativitas, serta kecerdasan intelektual, diharapkan mahasiswa mampu menganalisis  persoalan sosial, kajian mendalam, tampil dalam mimbar ilmiah, dan perdebatan akademik. Tidak sedikit yang menjadi katalisator gerakan sosial, gerakan yang dibangun atas dasar trend issue, situasi dan kondisi, pijakan moral dan keinginan yang berbeda secara politik.

1 Januari 2015

Islam dan Liberalisme

oleh: Arif Syaifurrisal
Pegiat KAMMI di Surabaya

Saat terjadi gejolak di tubuh Sarikat Islam yang melibatkan golongan kiri, seperti Semaoen dkk (SI-Merah) dengan golongan Islamis Agus Salim dkk (SI-Putih), H.O.S Tjokroaminoto menulis buku berjudul Islam dan Sosialsme. Buku ini ditulis guna menghalau pengaruh kelompok kiri komunis dalam tubuh SI. Dalam buku yang dicetak berulang-ulang hingga dekade 1950an ini, Tjokroaminoto menyampaikan bahwa seorang muslim dengan sendirinya akan menjadi sosialis, tidak perlu ikut ikutan komunisme ala barat, sosialisme ala barat. Maka, Islam sebagai sebuah agama yang syumul, sebagai sebuah way of life yang komperhensif dengan sendirinya bersifat sosialis. Tentu saja, sosialisme yang berada dalam pihakan Islam yang syumul ini sangat berbeda dengan sosialisme yang muncul dan dipraktikkan di Eropa sana.

Jika pada abad ke-20 islam banyak bergesekan dengan ideologi sosialis yang sedang naik daun sebagai ideologi perlawanan terhadap imperialisme dan kapitalisme barat, maka pada abad ke-21 ini Islam banyak bersinggungan dengan liberalisme yang diklaim oleh Francis Fukuyama dalam bukunya, The End of History. sebagai pemenang final dari benturan ideologi di tatanan dunia saat ini. Atau, yang dipercaya sebagai representasi 'Barat' dalam benturan antar peradaban -versi Samuel Huntington- sampai akhir hayat dunia nanti. Maka, pertanyaan yang perlu dimunculkan: apakah Islam yang dipercaya oleh pengikutnya sebagai agama yang syumul, sebagai sebuah way of life yang komperhensif juga bersifat liberal sebagaimana Islam juga bersifat sosialis seperti kata Tjokroaminoto?