Tampilkan postingan dengan label Jurnal IBHAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal IBHAR. Tampilkan semua postingan

26 Februari 2013

[IBHAR VOL. 2]"Student Government": Konsep, Fungsi dan Peran

oleh: Amin Sudarsono *)


“Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah “the happy selected few” yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus juga menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya.”

[Soe Hok Gie, Cacatan Seorang Demonstran]


bw Amin SudarsonoMenjadi mahasiswa adalah sebuah tanggungjawab, kepada rakyat dan jatidiri mahasiswalah tanggungjawab itu dipertaruhkan. “Bukan mengatakan yang benar kepada kekuasaan.” (Edward W. Said, Peran Intelektual, 1998.) Paling tidak, posisi mahasiswa dan intelektual nantinya menjadi bagian penting dari perubahan peradaban yang “benar” (kata benar dimaksudkan menjadi kelompok kritis perubahan yang melawan bentuk-bentuk otoritas). Identitas mahasiswa, jika boleh digampangkan adalah jiwa perlawanan dan alternatif (lain daripada yang lain). Sebuah identitas yang sebenarnya patut dipertanyakan kepada pemiliknya, apakah jiwa perlawanan, kritis, pemberontakan, kritis terhadap kekuasaan dan kemapanan sudah tumbuh dan menjadi jiwa dan nurani mahasiswa? Jangan-jangan mereka hanya menjadi budak dan mesin-mesin pemikir langgengnya kekuasaan.

[IBHAR VOL. 2] Modifikasi Strategi Gerakan KAMMI di Era Demokratisasi

oleh: Edo Segara Gustanto1 dan Fatma M. A.2


edosegarSaat ini kita melihat perkembangan GM kurang memiliki posisi yang signifikan dalam proses penyelenggaraan good governance. Hal ini disebabkan para pelaksana pemerintahan kita yang semakin cerdik dan licik untuk melakukan treatment yang cukup cerdas terhadap gerakan mahasiswa (GM). Ini terbukti selama Pemerintahan ini dipimpin oleh SBY-Kalla kebijakan-kebijakan tidak populis dan tidak pro-rakyat bisa berjalan dengan mulus.


Ada upaya dari banyak kalangan pemerintahan yang paham betul dengan gerakan mahasiswa untuk membusukkan aksi-aksi gerakan dengan cara membiarkan saja teriakan mahasiswa di jalanan. Maka sudah selayaknya KAMMI sebagai salah satu instrumen demokrasi yang cukup penting dalam membangun proses good governance (tata pemerintahan yang lebih baik) harus melakukan upaya menata ulang kembali arah gerakan yang selama ini telah ada. Hadirnya tulisan ini mencoba menjawab tantangan KAMMI saat ini.

[IBHAR VOL. 2] Muslim Negarawan Sebagai Orientasi Kaderisasi KAMMI

oleh: Rijalul Imam, S. Hum *)


“dengan membangun tradisi berpolitik KAMMI pada prinsip politik moral berbasis nalar intelektual..."


Latar Belakang


RijalulKelahiran KAMMI di era reformasi tidak muncul secara tiba-tiba. KAMMI adalah bagian dari rencana gerakan yang dibangun oleh arus kebangkitan Dunia Islam pada umumnya, dan secara khusus berangkat dari kegelisahan anak-anak muda muslim kampus di Indonesia. Perkembangan peran-peran umat Islam dalam perbaikan negara dan masyarakat semakin menuai hasil, terutama dalam pembentukan pandangan publik yang Islami. Indikasi ini nampak dari kecenderungan budaya Islam yang semakin bersaing dengan budaya Barat yang hegemonik, serta pengalihan wacana pengetahuan umum kepada paradigma Islam sebagai sistem keilmuan alternatif dari yang selama ini diterapkan dalam rangka memecahkan problematika kemanusiaan dan alam dalam perspektif yang lebih aplikatif dan holistik, begitu juga dalam realitas fakta sosial dan perkembangan konstelasi politik kehadiran gerakan Islam menjadi salah satu kekuatan bangsa yang diperhitungkan dalam mewujudkan Indonesia baru.

[IBHAR VOL. 2] Menakar Universalitas Tesis Fukuyama

oleh: Akhmad Adi Purawan, S.H.


GambarSEJAK runtuhnya sosialisme sebagai idelogi, yang ditandai dengan runtuhnya negara sosialis Uni Sovyet, masyarakat modern di seluruh penjuru dunia mengerti bahwa perekonomian dunia saat ini tengah dijerat oleh pengaruh kuat tekanan ideologi liberal, ideologi kapitalis. Indikator pertumbuhan atau pergerakan ekonomi suatu Negara saat ini ditentukan oleh pengukuran kinerja oleh panel-panel ideologi tersebut seperti IMF, IDB, World Bank dan WTO. Institusi-institusi itulah yang bertanggung jawab atas penetapan pengukuran kinerja atau pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia.


Masyarakat dunia dalam suatu kawasan kemudian dibedakan menjadi negara maju (High Productivity and Technology Countries) dan negara miskin atau sedang berkembang (Underdevelopment Countries). Negara-negara yang terakhir digolongkan demikian karena mereka dianggap tidak memiliki kemampuan sumber-sumber ekonomi, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, ataupun sumber daya kapital (modal). Sementara instrumen dan indikator yang digunakan dalam tatanan globalisasi ditetapkan menurut standar negara-negara pusat ideologi kapitalis dunia. Kesenjangan pembangunan dan pertumbuhan sosial-ekonomi yang terjadi di negara-negara di dunia didasarkan atas penilaian menggunakan parameter berupa indikator tingkat produktivitas, skill administrasi dan penggunaan teknologi pada sektor produksi.

[IBHAR VOL. 2] Menikmati Globalisasi?

oleh: Bowo Sugiarto *) 


GambarGLOBALISASI, kisah Amer Al Roubaie, memang jargon yang tidak mudah untuk ‘ditangkap’. Ia setuju dengan Giddens bahwa Globalisasi “…merupakan proses yang rumit dan bukan merupakan suatu proses tunggal. Proses-proses ini juga berlangsung dalam model yang berlainan dan berlawanan.” Tapi tampaknya ia berusaha ‘menangkapnya’.


Dalam artikelnya ‘Globalisasi dan Peradaban Islam’, Al Roubaie menjelaskan globalisasi dalam konteks budaya dan ekonomi-politik sekaligus. Ia kelihatan begitu pesimistik dengan globalisasi ketika ia mendapatinya ‘…telah meminimalisir perlindungan terhadap budaya lokal melalui proses liberalisasi (swastanisasi) pasar dan perdagangan luas di banyak negara berkembang.’ Mungkin inti pesimisme Al Roubaie dapat kita temukan lewat pendapat Malcolm Waters yang ia kutip, yaitu ‘globalisasi adalah konsekuensi langsung dari ekspansi budaya Eropa yang melintasi seluruh planet ini..’

[IBHAR VOL. 2] Gerakan Islam Merebut Identitas Globalisasi

Oleh: Syarifudin *)


Identitas itu ibarat garmen | Ia dikenakan di atas diri kita yang bugil. (James Baldwin)



Cinta hadir melalui proses identifikasi. (Syarifudin)


syarifudinBERBICARA globalisasi dan gerakan Islam, yang terlintas dalam benak Antum pertama bisa jadi kesan pertentangan dan pertarungan. Ada hitam dan ada putih. Tak ada wilayah abu-abu, karena menurut sebagian orang itu wilayah subhat dan jelas bid’ah dholalah-nya. Saya tidak ingin membicarakan itu, penulis lebih tertarik untuk membicarakan tema ini dalam konteks identitas.


Bagaimana perebutan identitas terjadi dalam lapangan kehidupan kita. Perebutan identitas itulah yang kemudian memproduksi banyak hal. Bagaimana kerinduan terhadap identitas terjadi dan menggerakkan hidup seseorang atau komunitas tertentu. Aktivitas manusia pun dapat ditarik ulur dalam wilayah pencarian identitas.

[IBHAR VOL. 2]Ketika Pendulum itu Bergeser ke Kanan: Demokrasi Liberal, Islam Politik dan Timur Tengah

oleh: Okta Undang Suhara, SIP


“Demokrasi adalah sistem yang paling buruk, masalahnya pada saat ini tidak ada yang lebih baik dari Demokrasi…”

[Sir Winston Churchill]


GambarPEMILU Legislatif di Palestina tanggal 25 Januari 2006 yang lalu telah menghasilkan Hamas (Harakah al-Muqâwwamah al-Islâmiyah) sebagai pemenang Pemilu (dengan perolehan 57% kursi di legislatif). Sebelumnya, pada akhir Desember 2005, di Mesir, gerakan al- Ikhwan al-Muslimun (IM) dalam Pemilu legislatif—meskipun belum mampu menggeser rezim Hosni Mubarak—mampu mengantongi 88 kursi di parlemen. Suatu hasil yang cukup fantastis dibandingkan 17 kursi pada pemilu tahun 2000 yang lampau. Di belahan dunia yang lain, Pemilu di Iran, telah memenangkan Mahmoud Ahmadinejad yang kini telah melenggang sebagai Presiden Iran.

Dalam lanskap politik global, fenomena-fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba. Para tokoh atau kelompok-kelompok yang muncul sebagai pemenang pemilu tersebut adalah golongan yang selama ini dikenal sangat anti terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika, dan pada umumnya, mereka ini berada pada kuadran yang sering disebut sebagai kubu Islamis atau Fundamentalis.

25 Februari 2013

[IBHAR VOL. 2] Iftitah

Catatan Penyunting: Tulisan ini merupakan pengantar untuk Jurnal IBHAR Vol. 2/Februari 2006. Diterbitkan kembali atas seizin penulisnya. 

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

kammi

Awal-awal tahun 2006 ini sepertinya menjadi tonggak baru bagi politik Islam di tingkat global. Januari kemarin, secara telak, Hamas dapat memenagkan Pemilu di Palestina dengan sangat fair dan suasana demokratis. Susul menyusul dengan unggulnya Ikhwanul Muslimin di parlemen Mesir dan makin garangnya Mahmoud Ahmadinejad untuk mengegolkan proyek teknologi nuklirnya di Iran.

Fenomena ini menjadi sangat menarik saat kita membaca tesis dua futurist yang berbasis “ilmiah” dan seringkali dirujuk para ilmuwan politik saat menyimak geliat politik global: Samuel P. Huntington dan Francis Fukuyama. Huntington mengetengahkan tesis The Clash of Civilization sementara Fukuyama memberi gong dengan ramalan The End of History. Benturan peradaban antara Barat dan Islam (plus Konfusianisme) akhirnya akan dimenangkan oleh sistem ideologi politik Demokrasi Liberal made in Barat sebagai sebuah akhir sejarah.

21 Februari 2013

[IBHAR VOL.1] Menjadi Lebih dari Soe Hok Gie

Oleh: Akbar Tri Kurniawan *)


Gambar“Kalau ingin bebas, kita harus melawan,” satu petikan kata yang terucap dari mulut Soe Hok Gie dalam film Gie. Menarik membicarakan film ini, dan saya kira masyarakat akan terbelah beberapa faksi dalam memandang film ini. Saya meleburkan diri menjadi bagian dari salah satu faksi, yaitu dari sudut pandang saya sebagai aktivis KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).

Patutlah kita ucapkan terimakasih kepada seluruh tim pembuat film Gie ini, karena penonton akan lebih memiliki imajinasi mengenai aktivitas seorang aktivis mahasiswa, meskipun imajinasi tersebut banyak terpengaruh dengan alur cerita dalam film Gie. Namun cukup bagi saya, bahwa aktivitas aktivis mahasiswa yang diperankan dapat mewakili aktivitas mahasiswa yang otentik, yaitu melawan, membaca, menulis, berdiskusi, nonton film lalu membedahnya, demonstrasi, tapi—maaf—tidak untuk berciuman (sekali lagi ini sudut pandang saya sebagai aktivis KAMMI).

[IBHAR VOL. 1] Senthong Suwung: Sebuah Ekspresi dalam Kosong

Oleh: Muthia Esfand *)

Muthia2Marilah mulai berbareng berfikir, tanpa membuka lembar demi lembar buku berjudul Gerakan Perlawanan Dari Masjid Kampus, tanpa bernostalgia panjang tentang kemenangan masa 1998 lampau, tanpa senyum bangga sebagai salah satu subjek pengguling tirani. Tutup dan putuskan semua kenangan itu, beranjak memasuki senthong suwung pikiran kita. Ruang yang hanya sisi objektif yang menjadi penghuninya.

Terlampau sering memang; kritik, masukan, saran, kecaman, dari pihak manapun juga melayang masuk di atas meja barisan pegiat gerakan mahasiswa yang baru berumur pendek ini. Entah membangun ataupun tidak, diterima atau tidak, menjadi bahan refleksi ataupun tidak. Satu hal yang jelas, tidak pernah gerakan ini berjalan begitu saja, ibarat melaju mulus di atas jalan tol baru, tanpa kritik, pujian, kecaman atau apapun namanya itu. Anehnya, kritikan yang persis sama bisa terus bertahan lama dari tahun ke tahun tanpa perubahan substansi. Hanya person, redaksi, waktu dan tempat munculnya yang berubah. Apakah disebabkan kompleks dan bertumpuknya permasalahan yang ada, atau panjangnya deretan program kerja yang mesti diselesaikan, atau bisa jadi memang belum terfikirkan formula untuk menjawab beragam kritikan yang terungkapkan.

[IBHAR VOL.1] Belajar dari Risalah Muktamar Keenam Ikhwanul Muslimin

sarasehan2Diolah oleh Tim Redaksi dari Gagasan Dasar Imron Rosyadi, ST (Ketua KAMMI DIY 2000-2002)

Keputusan untuk mendirikan gerakan senantiasa membutuhkan syarat yang berat. Syarat yang pertama ia harus mempunyai ideologi yang jelas. Ideologi adalah ruh bagi sebuah organisasi. Ideologi merupakan gambaran bagaimana tampilan organisasi tersebut bagi pihak lain, dan bagaimana ia berbeda dengan organisasi yang lain.

Syarat yang kedua adalah punya penggerak yang visioner. Penggerak—sang pencipta dan pengejawantah ideologi—adalah sebuah jaminan bahwa gerakan (dan ideologinya) adalah layak untuk hidup dan dipandang. Sehingga orang yang nekad mendirikan sebuah gerakan harus menyediakan diri dan hidupnya, serta menahan diri untuk tetap bertahan dan tegar, plus satu lagi memberikan energi bagi gerakannya.

[IBHAR VOL. 1] Strategi Kebudayaan KAMMI: Risalah Rekonstruksi Ideologi Gerakan KAMMI

Oleh: Ardhi Rahman Y.A*)

 Berikan aku seratus pemuda, dan aku akan merubah dunia dengannya


[Soekarno]


Sejarah bangsa adalah sejarah pemudanya


[Hasan al-Banna]


OLYMPUS DIGITAL CAMERADalam gerakan mahasiswa kita mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai modernizing agents. Praduga bahwa di kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, tetapi juga ada kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa ini terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas.

Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan “menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal” lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Pelbagai cara  yang mahasiswa gunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan, seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa—jika dibandingkan dengan intelektual profesional—lebih punya keahlian dan efektif, jaringan komunikasi antar mahasiswa lebih aktif (teori snow bowling).

Alasan utama menempatkan mahasiswa beserta gerakannya, lantaran kepeloporannya sebagai “pembela rakyat” serta keperduliannya yang tinggi terhadap masalah bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan jujur dan tegas. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktivitas politik mahasiswa yang telah memberikan konstribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya.

[IBHAR VOL. 1] Tantangan Masa Depan dan Budaya KAMMI: Pengantar tentang Pijakan Fundamentalisme-Rasional

Oleh: Yusuf Maulana*)


GambarApa yang membedakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dengan gerakan-gerakan mahasiswa lainnya, baik yang bercorak nasionalis ataupun islamis?

Bila ditanyakan ke masyarakat, jawaban atas pertanyaan di atas barangkali akan lebih banyak memunculkan hal-hal yang lebih tampak dalam diri aktivis KAMMI—cara berbusana, bergaul, atau selera konsumsi makanan dan hiburannya. Bagi masyarakat yang sering menyimak media massa, KAMMI dilekatkan dengan demonstrasi. Jawaban dari kalangan aktivis, baik yang berasal dari mahasiswa, partai ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), KAMMI adalah wakil gerakan Islam puritan; perpanjangan politik sebuah partai; masif dalam berdemonstrasi; kurang menguasai dunia intelektual.

[IBHAR VOL. 1] Dr. Tariq Ramadan: Menyatukan Identitas Barat dan Islam





 Diolah oleh: Tim Redaksi




 

Gambar

Saat datang ke Jakarta pada tahun 2003, lelaki ini bercerita tentang masa kecilnya. “Kehidupan kami sangat sulit di pengasingan. Ayah saya meninggalkan Mesir karena tekanan Gamal Abdul Nasser—presiden Mesir ketika itu—pada tahun 1954 menuju Damaskus, lalu ke Lebanon, kemudian ke Eropa. Tadinya ayah memilih London, tapi kemudian akhirnya tiba di Swiss (1958) di mana masyarakat Muslimnya masih sangat sedikit.

Saya merasakan langsung betapa berat tantangan yang dihadapi iman ayah saya di lingkungan Barat. Alhamdulillah, tiga tahun setelah bermukim di Swiss berdirilah Islamic Center dibantu pemerintah Arab Saudi. Waktu itu ayah berhubungan baik dengan Mohammad Natsir.

[IBHAR VOL. 1] Profil Intelektual Profetik: Elaborasi Filosofis-Quranik Paradigma Gerakan KAMMI

Oleh: Rijalul Imam*)


RijalulMaka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” [QS. al-An’am: 44]

Tulisan ini mencoba mengelaborasi sedikit profil intelektual profetik. Dimungkinkan ada padanan kata intelektual profetik yang dimaksud KAMMI dengan apa yang sudah digariskan al-Qur’an. Biasanya istilah intelektual disamakan dengan istilah pemikir (thinker) atau ilmuwan (scientic) padahal ada perbedaan mendasar antara intelektual dengan pemikir dan ilmuwan.

[IBHAR VOL. 1] Mengapa KAMMI Harus Lahir ?

Oleh: Amin Sudarsono*)

“Semua ideologi yang berorientasi pada strategi revolusi, menganggap pemuda sebagai tenaga paling revolusioner yang telah dan terjadi di seantero dunia ini”

[Fathi Yakan]


bw Amin SudarsonoTUJUH tahun yang lalu, tepatnya tanggal 29 Maret 1998, dibacakanlah Deklarasi Malang sebagai proklamasi kelahiran sebuah organ gerakan mahasiswa muslim yang baru, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Pembacaan dilakukan oleh Fahri Hamzah, yang kemudian didaulat menjadi ketua pertama dengan didampingi Haryo Setyoko sebagai sekretaris umum. Peristiwa bersejarah itu kemudian diabadikan sebagai hari milad KAMMI.

KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif mahasiswa yang berbasis mahasiswa muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) di seluruh Indonesia. Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktivis dakwah kampus.

[IBHAR VOL.1] Iftitah

Assalamu’alaykum Warahmatullahu Wabarakatuh.

kammi intel

Bismillah. Kata itu memang mengandung sebuah kekuatan spiritual yang mampu mencipta sebuah ledakan besar. Kata itu juga menjadi sebuah deklarasi penyandaran total sisi kelemahan manusia pada kemahakuasaan Tuhan, sebuah pernyataan pasrah sekaligus penuh optimisme. Tuhan memerintahkan saat menurunkan ayat pertama Quran: Iqra, bismi Rabbikalladzi khalaq! Dengan asma Rabb, maka manusia tahu hakikat kemanusiaannya.

Dengan menyebut kata itu pula, kami (berani untuk) mencoba melangkahkan kaki saat akan menerbitkan (semacam) jurnal ilmiah ini. Kami yakin bahwa, perjalanan sejauh apapun selalu harus dimulai dengan sebuah langkah mantap. Jurnal ini semoga bisa menjadi sebuah langkah awal membangun dialektika intelektual dalam tubuh gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang disinyalir memiliki kelemahan dalam hal konsepsi intelektual. Sekaligus melanjutkan—dan menajamkan—salah satu Paradigma Gerakan KAMMI, yaitu Intelektual Profetik.