“Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah “the happy selected few” yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus juga menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya.”
[Soe Hok Gie, Cacatan Seorang Demonstran]
Menjadi mahasiswa adalah sebuah tanggungjawab, kepada rakyat dan jatidiri mahasiswalah tanggungjawab itu dipertaruhkan. “Bukan mengatakan yang benar kepada kekuasaan.” (Edward W. Said, Peran Intelektual, 1998.) Paling tidak, posisi mahasiswa dan intelektual nantinya menjadi bagian penting dari perubahan peradaban yang “benar” (kata benar dimaksudkan menjadi kelompok kritis perubahan yang melawan bentuk-bentuk otoritas). Identitas mahasiswa, jika boleh digampangkan adalah jiwa perlawanan dan alternatif (lain daripada yang lain). Sebuah identitas yang sebenarnya patut dipertanyakan kepada pemiliknya, apakah jiwa perlawanan, kritis, pemberontakan, kritis terhadap kekuasaan dan kemapanan sudah tumbuh dan menjadi jiwa dan nurani mahasiswa? Jangan-jangan mereka hanya menjadi budak dan mesin-mesin pemikir langgengnya kekuasaan.